UBS Investment Bank: Indonesia Negara Terbesar di ASEAN, Tapi AUM Paling Mini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - UBS Investment Bank menilai ukuran industri pengelolaan aset Indonesia tertinggal jauh dibanding negara-negara tetangga di ASEAN.
Managing Director UBS Investment Banking Ranju Parambi mengatakan, jika Indonesia membandingkan diri dengan India, negara tersebut sudah mencapai skala sekitar US$ 800 juta dan berpotensi menuju triliunan dolar. Namun ia menggarisbawahi fokus perbandingan seharusnya lebih luas.
“Saya berfikir, agak bertanya-tanya apakah ASEAN adalah benchmark yang tepat ketika kita berpikir tentang capital, karena ketika kita merupakan pengurus fund di New York, kita tidak berpikir tentang ASEAN, kita berpikir tentang global,” kata Ranju dalam acara Capital Market Forum 2025 yang diselenggarakan investortrust.id di Jakarta, Kamis, (4/12/2025).
Meski begitu, Ranju mencoba membawa perspektif yang lebih dekat dengan membandingkan Indonesia hanya dengan pasar ASEAN dan hasilnya tetap menunjukkan kesenjangan signifikan.
Ranju mencontohkan Thailand sebagai benchmark terdekat. Satu manajer aset terbesar di Thailand saja, yaitu Siam Commercial Bank Mutual Fund, mengelola sekitar US$ 67 juta. Sementara pemain nomor dua, Kasikorn Asset Management, memiliki AUM sekitar US$ 57 juta.
“Total AUM di Indonesia, total AUM adalah US$ 55 juta dolar. Sebagai negara, total AUM kita lebih rendah daripada pemain terbesar yang kedua di Thailand,” jelasnya.
Baca Juga
Dubes India Sebut Indonesia Bisa Adopsi Model 225 Juta Investor Ritel India
Kesenjangan semakin terlihat ketika membandingkan dengan negara lain yakni Filipina sekitar US$ 122 juta, lebih dari dua kali lipat Indonesia dan Malaysia sekitar US$ 240 juta, tertinggi di kawasan. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia belum menjadikan ekuitas sebagai bagian dari budaya investasi masyarakat.
Ranju menilai ukuran industri pengelolaan aset sangat mempengaruhi dinamika pasar modal. Semakin besar industrinya, semakin aktif pasar ekuitas, semakin banyak perusahaan yang melakukan pendanaan, dan semakin besar ruang pertumbuhan ekonomi.
“Jika Indonesia mampu memperkuat budaya investasi jangka panjang dan memperbesar industri pengelolaan aset, negara ini berpotensi menuju target pertumbuhan ekonomi 8% di masa depan,” ungkapnya.

