AUM Reksa Dana Terus Berkembang, Tapi Masih Tertinggal dari Negara Lain
JAKARTA, Investortrust.id - Hingga Januari 2024, dana kelolaan dari 93 manajer investasi di Indonesia telah mencapai Rp 816,19 triliun. Dari nilai tersebut, dalam periode 2014-2017 AUM (Asset Under Management) atau dana kelolaan reksa dana tumbuh 13,3% per tahun. Namun nilai tersebut menurun 4,9% per tahun dalam tiga tahun terakhir.
Direktur Utama Principal Asset Management, Naresh Krishnan mengungkapkan, AUM atau dana kelolaan Manajer Investasi sejatinya telah mengalami pertumbuhan yang signifikan.
“Dulu satu perusahaan hanya mengelola 1 triliun. Jadi ini merupakan kemajuan besar. Jadi ini sangat positif dan patut kita syukuri atas segala kemajuan yang kita capai,” ungkap Naresh dalam FGD “Berpacu Menuju AUM Rp 1.000 Triliun: Tantangan dan Strategi Industri Reksa Dana” di kantor Investortrust, Jakarta, Jumat (8/3/2024).
Walaupun AUM terus mengalami pertumbuhan, Naresh menjelaskan bahwa nilai dana kelolaan Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara lain. Sehingga, masih banyak hal yang perlu diupayakan untuk menyusul ketertinggalan tersebut.
Sebagai informasi, apabila dibandingkan dengan 20 negara dengan AUM terbesar, Indonesia masih tertinggal jauh. Amerika berada di peringkat satu dengan nilai aset US$34.554,29 miliar sedangkan Indonesia US$50,31 miliar.
Baca Juga
Di sisi lain, data perkembangan nilai aktiva bersih (NAB) berdasarkan jenis reksa dana menunjukkan bahwa reksa dana pendapatan tetap dan terproteksi menunjukkan tren meningkat, sedangkan reksa dana saham dan pasar uang cenderung menurun.
“Riset kami menunjukkan bahwa tahun ini tahun ekuitas sebab adanya penurunan suku bunga di semester 2. Beberapa MI mengatakan bahwa alokasi masih tertinggi di pendapatan tetap,” ungkap Pemimpin Redaksi Investortrust.id, Primus Dorimulu.
Suasana Focus Group Discussion bertema "Berpacu Menuju AUM Rp 1.000 Triliun" di kantor redaksi Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Jumat (08/03/2024). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.
“Penggunaan reksa dana saham justru meningkat namun justru menurun secara signifikan. Jadi itu adalah hal yang memprihatinkan karena berinvestasi di pasar saham adalah tulang punggung industri reksa dana.Dan di sisi pendapatan tetap juga banyak tantangan yang kita hadapi. Karena kami bersaing dengan pemerintah,” tambah Naresh.
Oleh sebab itu, Naresh menjelaskan bahwa perjalanan dari manajer investasi masih panjang untuk terus meningkatkan industri reksa dana. (CR-4)

