Bagikan

Sinyal 'Dovish' The Fed Dongkrak IHSG: Target 9.000 Makin Dekat


Poin Penting

IHSG menguat ke 8.604 setelah ekspektasi pemangkasan FFR naik jadi 85%.
Target IHSG 9.000 di akhir 2025 dinilai makin realistis.
Saham big caps dan sektor energi hingga konstruksi menarik untuk akumulasi.

JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali menunjukkan ketangguhannya setelah ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Funds Rate (FFR) pada Desember 2025 melonjak drastis dari 40% menjadi 85%, berdasarkan FedWatch Tool.

Sinyal dovish yang dikeluarkan pejabat The Fed pada akhir pekan lalu langsung mengubah arah pasar keuangan global, membuat likuiditas kembali mengalir ke emerging markets, termasuk Indonesia.

Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menjelaskan dampaknya terlihat jelas ketika IHSG pada perdagangan Rabu (26/11/2025) ditutup menguat 80,24 poin atau 0,94% ke level 8.604, kembali lagi mencetak rekor all time high (ATH).

“Dengan momentum kuat ini, target IHSG menuju 9.000 di akhir 2025 menjadi semakin realistis,” kata Hendra saat dihubungi investortrust.id Rabu, (26/11/2025).

Menurut Hendra, katalis utama adalah kombinasi arus modal asing yang berpotensi kembali masuk, stabilitas makro domestik, hingga ekspektasi penurunan suku bunga Bank Indonesia apabila The Fed benar-benar memangkas FFR.

“Selama rupiah dapat bertahan di bawah Rp 16.700 dan pertumbuhan laba emiten besar, khususnya perbankan, tetap kuat, peluang indeks menembus 8.900-9.100 di tahun depan terbuka lebar,” ucapnya.

Baca Juga

Net Sell Rp 550,45 Miliar, Asing Lepas Saham BBRI dan BBCA Saat IHSG Cetak Rekor

Ekspektasi dovish The Fed sangat mungkin meningkatkan kepemilikan asing di pasar modal Indonesia. Penurunan FFR membuat selisih imbal hasil antara US Treasury dan SBN kembali melebar, sehingga Indonesia menawarkan yield premium yang menarik bagi investor global.

Selain itu, stabilitas ekonomi Indonesia, pertumbuhan PDB yang tetap berada di kisaran 5%, serta rupiah yang cenderung stabil menjadi faktor pendukung bagi aliran modal asing untuk kembali memborong saham-saham kapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, ASII, hingga TLKM.

Net foreign buy yang beberapa waktu terakhir mulai pulih merupakan sinyal awal bahwa investor asing mulai melakukan rebalancing portofolio menuju aset risiko di emerging markets.

Melihat keseluruhan dinamika pasar, beberapa saham yang menarik dicermati untuk akumulasi antara lain BUMI dengan target Rp 300 seiring meningkatnya sentimen energi, SMGR dengan target Rp 3.200 seiring potensi pemulihan sektor konstruksi dan properti, SCMA dengan target Rp 450 yang mendapat sentimen positif dari IPO Superbank milik grup Emtek, serta DEWA dengan target Rp 470 seiring peningkatan aktivitas sektor pertambangan jasa.

Sementara itu, big caps seperti BBCA dengan target Rp 10.500, BMRI dengan target Rp 8.000, BBRI dengan target Rp 6.500, dan TLKM dengan target Rp 4.000 juga tetap layak dikoleksi untuk memanfaatkan potensi inflow asing.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024