Dipicu Lompatan Harga, Saham Sinergi Inti (INET) Disusspensi Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara atau suspense perdagangan saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dipicu atas lompatan harga kumulatif yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.
BEI dalam penjelasan resminya di Jakarta, Selasa (25/11/2025), menyebutkan bahwa suspense bertujuan sebagai cooling down guna melindungi investor, sehingga dilakukan penghentian perdagangan saham INET dan INET-W di pasar regular dan pasar tunai.
Baca Juga
Sinergi Inti Raih Kontrak Penjualan Bandwith ke Surge Selama 10 Tahun
Berdasarkan data BEI diungkap bahwa saham INET telah melambung lebih dari 141% menjadi Rp 675 dalam sebulan terakhir. Begitu juga dengan INET-W telah melesat lebih dari 214% menjadi Rp 585. Bahkan, saham INET kemarin ditutup melesat hingga auto reject atas (ARA) sekitar 25% menjadi Rp 675.
Sebelumnya, Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis Setyo W dan Sukarno Alatas mengatakan, sejumlah ekspansi yang dilakukan INET akan berdampak terhadap lompatan kinerja keuangan ke depan. Di antaranya, investasi Rp 200–300 miliar untuk proyek kabel laut Jakarta–Batam–Singapura berkapasitas 20 Tbps dengan 50% kapasitas sudah diamankan oleh PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE). Kondisi ini memberikan visibilitas pendapatan yang kuat dan meningkatkan efisiensi IP transit perseroan.
Baca Juga
Sinergi Inti (INET) Gaspol Ekspansi Digital, Sahamnya Bisa Menuju Level Ini
INET juga mengembangkan jaringan FTTH Bali–Lombok melalui PT Garuda Prima Internetindo (GPI) sebagai mitra Starlite bersama PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI.IJ). Proyek ini menargetkan 2 juta homepasses dan menawarkan layanan Wi-Fi 7 berkecepatan hingga 2 Gbps dengan harga mulai Rp 299.000 per bulan. “Dengan karakteristik pasar berpendapatan tinggi namun penetrasi FTTH masih rendah di bawah 25%, proyek ini sebagai salah satu motor pertumbuhan utama INET ke depan,” tulis riset tersebut.
Guna mendukung perluasan jaringan, INET juga akan menghimpun dana Rp 3,2 triliun melalui rights issue dengan rasiio 3:4. Sebagian besar dana akan dialokasikan ke GPI untuk mempercepat rollout Wi-Fi 7 FTTH Bali–Lombok. Sisanya digunakan untuk pembayaran kabel laut, pembangunan FTTH di Jawa, serta kebutuhan modal kerja. Perseroan juga didukung akuisisi PT Personil Alihdaya Tbk (PADA) dan PT Trans Hybrid Communication (THC).

