Danantara Siapkan Dana Rp 20 Triliun ke Usaha Peternakan Ayam, Emiten Ini Diuntungkan
JAKARTA, investortrust.id – Program alokasi dana Rp 20 triliun dari Danantara untuk pembiayaan peternak ayam pedaging dan petelur menjadi sorotan baru di industri unggas. Langkah ini bisa membawa dampak berbeda bagi emiten peternakan ayam dengan dampak positif terbesar diprediksi diterima CPIN, JPFA, dan MAIN.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dan Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Abdul Azis menyebutkan bahwa skema ini bukan untuk membentuk peternakan BUMN, tetapi memperkuat rantai pasok nasional melalui model inti plasma.
Baca Juga
Prabowo Bangga MBG Jangkau 44 Juta Penerima Kurang dari Setahun, Brasil Butuh 11 Tahun
Skema tersebut menghubungkan BUMN sektor hulu dengan peternak kecil di hilir, selaras dengan pola inti–plasma yang sudah puluhan tahun menjadi fondasi industri unggas Indonesia. Lima emiten poultry yang tecatat di BEI, yaitu CPIN, JPFA, MAIN, AYAM, dan WMUU, diproyeksikan menerima dampak berbeda tergantung skala dan efisiensi usaha.
Dalam skema inti plasma, integrator menyediakan DOC, pakan, obat, pendampingan teknis, serta bertindak sebagai offtaker. Pendanaan Danantara memperbesar kapasitas peternak kecil sekaligus memperluas ekosistem integrator besar hingga menengah.
Liza dan Azis menilai suntikan dana ini mampu memperkuat rantai pasok nasional, terutama untuk mendukung kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memerlukan pasokan ayam dan telur dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
“Emiten besar seperti Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), dan Malindo Feedmill (MAIN) dinilai paling kompatibel dengan skema Danantara berkat skala integrasi mereka,” tulis riset tersebut.
Keputusan Danantara tersebut bisa membuat jumlah plasma bertambah, sehingga permintaan DOC, pakan, vitamin, dan obat meningkat. Pasokan nasional broiler juga berpeluang naik, sehingga kebutuhan MBG lebih terjamin. Penurunan risiko piutang peternak kecil membuat plasma lebih bankable.
Baca Juga
Prospek Sektor Unggas Cerah Jelang Akhir Tahun, CPIN Pilihan Utama Analis
Namun risiko oversupply nasional tetap terbuka, jika kapasitas melonjak tanpa penyerapan cukup. “JPFA menjadi yang paling sensitif, MAIN paling rentan karena margin tipis, sementara CPIN dinilai paling aman karena skala besar dan struktur biaya kuat,” terangnya.
Sedangkan emiten peternakan ayam level menegang-kecil, seperti AYAM dan WMUU, justru berpeluang mengalami percepatan ekspansi. AYAM sebagai mini-integrator dan WMUU dengan fokus broiler–RPA dapat memperbesar volume produksi karena dana Danantara mendukung ekspansi plasma tanpa investasi besar.
Peternak kecil yang mendapat pendanaan dapat menjadi basis produksi baru bagi keduanya. Stabilitas harga dari program MBG juga menguntungkan, terutama bagi WMUU yang sensitif terhadap fluktuasi harga livebird.
Grafik Saham

