IHSG Tahan Tekanan Global, Investor Diminta Cermati Arah The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketidakpastian penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Funds Rate) pada Desember kembali menebarkan awan gelap di pasar global. Harapan bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga tahun ini kembali meredup seiring menguatnya indeks dolar (DXY) dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai kondisi tersebut langsung menekan aset lindung nilai. “Situasi ini membuat aset lindung nilai seperti emas dan kripto melemah tajam, sementara pasar saham AS pun ikut terkoreksi,” kata Hendra kepada investortrust.id, Senin, (17/11/2025).
Di tengah tekanan global itu, IHSG justru menunjukkan ketahanan. Indeks ditutup menguat di level 8.417 pada perdagangan Senin (17/11/2025), ditopang aliran modal asing yang mencatat net buy Rp 666 miliar.
“Namun, dalam konteks ketidakpastian global ini, ketahanan IHSG perlu terus dicermati karena risiko koreksi besar tetap terbuka jika tekanan dolar AS semakin dominan dan capital outflow tiba-tiba membesar,” terang dia.
Ke depan, investor diminta mencermati arah kebijakan The Fed yang masih menjadi kunci volatilitas pasar. “Selama DXY bergerak naik dan yield obligasi AS bertahan tinggi, pasar negara berkembang seperti Indonesia berpotensi menghadapi tekanan outflow,” ucap dia.
Baca Juga
Rupiah Melemah ke Rp 16.734 Seiring Meningkatnya Kekhawatiran Arah Kebijakan The Fed
Sektor-sektor komoditas turut menjadi korban dari gejolak global. Harga emas, nikel, hingga tembaga melemah tajam, yang tercermin dari koreksi saham-saham MDKA, MBMA, AMMN, dan BRMS dalam beberapa hari terakhir.
Sebaliknya, Hendra melihat peluang pada sektor domestik. Menurutnya, konsumsi dalam negeri, properti, perbankan big cap, hingga telekomunikasi mampu menjadi penopang IHSG lantaran minim eksposur terhadap sentimen global dan tetap didukung fundamental ekonomi yang kuat.
Arus modal asing juga memperkuat sektor-sektor tersebut. Kinerja BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM yang mencatat net buy asing mengindikasikan kepercayaan investor global terhadap daya tahan perbankan dan telekomunikasi nasional. Di saat yang sama, sektor properti kembali mencatat penguatan, terlihat dari IDXPROP sebagai top gainer.
Dengan mempertimbangkan seluruh dinamika tersebut, rekomendasi saham yang dinilai menarik antara lain, buy SSIA dengan target harga Rp 1.800-1.920, buy SCMA dengan target Rp 400-450, spec buy BBTN dengan target Rp 1.270-1.335, buy ADRO dengan target Rp 1.980-2.100, buy MARK dengan target Rp 765-805.

