Rupiah Terdepresiasi, Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (4/2/2026) sekitar 0,07% ke level Rp 16.766 per dolar AS mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar global yang masih mencermati arah kebijakan moneter AS dan dinamika pergerakan aset keuangan internasional.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan indeks dolar AS atau DXY yang justru tercatat menurun. Data Bloomberg menunjukkan indeks dolar berada di level 97,38, meski mata uang AS masih menguat terhadap sejumlah mata uang utama dan regional.
Dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 0,29%, won Korea Selatan 0,19%, dan peso Filipina 0,1%. Di sisi lain, sejumlah mata uang mitra dagang Indonesia bergerak menguat terhadap dolar AS, di antaranya yuan China yang naik 0,06%, euro Uni Eropa 0,05%, serta poundsterling Britania Raya 0,05%. Penguatan juga tercatat pada ringgit Malaysia sebesar 0,24%, dolar Singapura 0,02%, dan baht Thailand 0,25%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 1,19 basis poin ke level 4,27%. Penurunan tersebut terjadi seiring penilaian pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi AS dan arah kebijakan moneter Federal Reserve di bawah calon Ketua The Fed Kevin Warsh.
Menurut Andry, pasar cenderung menjauh dari aset aman US Treasury seiring penguatan baru pada logam mulia. Kondisi ini muncul setelah aksi jual sebelumnya mendorong bursa utama secara signifikan menaikkan persyaratan margin untuk posisi terbuka, yang kemudian berdampak ke berbagai kelas aset.
Sementara itu, investor obligasi masih mencermati bagaimana Kevin Warsh akan mengarahkan kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) sepanjang tahun ini. Warsh dipandang sebagai sosok yang hawkish terhadap inflasi dan sebelumnya menentang pembesaran neraca The Fed saat krisis keuangan global.
Baca Juga
Keluar dari Tekanan, Rupiah Menguat Terhadap Mata Uang Paman Sam
Sikap tersebut sempat mendorong pelebaran kurva imbal hasil AS pada awal bulan. Imbal hasil juga meningkat setelah data terbaru Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan pemulihan tak terduga pada sektor manufaktur AS, yang memperkuat spekulasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian AS dan pergerakan pasar global, Andry memproyeksikan nilai tukar rupiah pada hari ini bergerak di kisaran Rp 16.725 hingga Rp 16.790 per dolar AS.

