The Fed Gamang Berimbas Rupiah Terdepresiasi
JAKARTA, investortrust.id - Pada perdagangan awal April 2024, nilai tukar rupiah melemah ke level 15.951 per USD atau terdepresiasi 3,6% (year to date), sudah mendekati level psikologis Rp 16 ribu per USD. Sikap gamang The Fed dalam menurunkan suku bunga acuan Amerika Serikat, Fed funds rate, ditengarai terus memperkuat indeks dolar AS. Imbasnya, mata uang Garuda makin loyo.
Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Reny Eka Putri menilai kebijakan The Fed memangkas Fed funds rate (FFR) akan sangat berdampak terhadap pasar keuangan Indonesia. Di tengah rencana Bank Sentral AS akan menurunkan suku bunganya untuk menggiring inflasi tingginya mendekati target 2%, ekonomi negara adidaya itu secara mengejutkan justru tumbuh 3,3% pada kuartal IV-2023.
"Saat ini, The Fed tengah gamang lantaran masih terus memantau indikator-indikator ekonomi, seperti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS, tingkat inflasi, angka pengangguran, hingga daya beli masyarakatnya sebelum memangkas FFR. Di sisi lain indikator-indikator ini terus menunjukkan tanda-tanda kekuatan dan stabilitas, sehingga The Fed berpotensi untuk mengurangi agresivitasnya dalam menurunkan suku bunga," kata Reni dalam keterangan tertulis kepada Investortrust.id, Rabu (3/4/2024).
Jika inflasi dapat lebih rendah dan sejalan dengan target The Fed sebesar 2%, pelaku pasar yakin bank sentral tersebut memangkas suku bunganya sebanyak tiga kali tahun ini, sesuai rencana. Hal tersebut untuk mendukung perekonomiannya sekaligus menjaga stabilitas harga di negara dengan perekonomian terbesar itu tahun ini.
Reni menyebut kepastian waktu penurunan suku bunga The Fed akan menjadi perhatian utama pasar, karena dapat memengaruhi volatilitas rupiah ke depan. "Kami melihat Fed funds rate berpotensi turun paling cepat pada paruh kedua tahun 2024. Begitu pula potensi penurunan BI rate baru akan terjadi pada paruh kedua tahun ini," tutur Reni.
Baca Juga
Langkah Mitigasi BI
Sementara itu untuk memitigasi volatilitas eksternal, Bank Indonesia akan melanjutkan triple intervention, twist operation, implementasi ketentuan devisa hasil ekspor (DHE), dan lelang instrumen terkini yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Langkah ini untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dalam negeri dan menyerap aliran modal.
"Dengan asumsi bahwa kebijakan The Fed akan menurunkan Fed funds rate menjadi 5% dan potensi aliran modal kembali ke pasar domestik, kami memperkirakan posisi mata uang rupiah dapat mencapai kisaran Rp 15.400-15.600 per USD akhir tahun 2024. Sedangkan benchmark imbal hasil obligasi dalam negeri pada kisaran 6,4-6,5%," imbuhnya.
Saat ini, FFR masih bertengger tinggi 5,25-5,50%. Selisihnya hanya 50 bps terhadap BI rate yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 6,00%.
Dana Lari ke AS
Direktur Eksekutif Institute for Indonesian Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti juga menuding pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ekonomi AS dan disertai peningkatan suku bunga oleh The Fed.
Direktur Eksekutif Institute for Indonesian Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti juga menuding pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ekonomi AS dan disertai peningkatan suku bunga oleh The Fed.
"Sehingga hal tersebut membuat capital inflow ke US meningkat," kata Esther kepada Investortrust.id, Rabu (3/4/2024).
Selain itu, sentimen lain seperti melambatnya ekspor dan peningkatan impor Indonesia menurut Esther berperan terhadap performa rupiah dalam perdagangan valas. Menurut ekonom Indef tersebut, pemerintah harus meningkatkan capital inflow melalui penciptaan iklim investasi yang kondusif, agar menarik investor lebih banyak ke Indonesia.
"Solusi kedua kenaikan suku bunga. Tapi ini temporer, tidak boleh jangka panjang, karena jika tingkat suku bunga tinggi maka sektor riil akan lesu," beber Esther.

