Pendapatan Melonjak 807%, Intan Baru Prana Pacu (IBFN) Ekspansi Bisnis Rental Alat Berat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Intan Baru Prana Tbk (IBFN) membukukan pendapatan sebesar Rp 143,79 miliar atau melonjak sekitar 807% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang sebesar Rp 15,85 miliar. Pertumbuhan ini menjadi salah satu indikator perbaikan operasional sepanjang tahun berjalan.
Direktur Utama IBFN Petrus Halim, mengatakan keberhasilan tersebut didorong oleh penguatan sejumlah pilar operasional.
“Konsistensi pertumbuhan Perseroan tidak lepas dari peningkatan produktivitas armada, penguatan efisiensi operasional, serta selektivitas dalam menjalankan proyek-proyek penyewaan alat berat. Langkah-langkah tersebut telah mendukung terciptanya kinerja yang lebih solid dan berkelanjutan sepanjang tahun 2025,” ujarnya dalam paparan publik, Senin (17/11/2025).
Petrus menambahkan, Perseroan juga terus memperluas kerja sama strategis di bisnis rental alat berat. Saat ini Perseroan terus mengembangkan kerja sama di bidang rental alat berat. “Perseroan telah menjalin kemitraan dengan beberapa perusahaan besar, antara lain PT Darma Henwa Tbk, PT Mitra Stania Prima, dan PT Petrosea Tbk,” jelasnya.
Ke depan, perseroan akan memperkuat strategi kolaborasi dengan mitra yang memiliki kompetensi dan kapasitas finansial solid. Selain itu, Perseroan berkomitmen menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan melalui layanan purna jual komprehensif, termasuk dukungan konsultasi lapangan dan rekomendasi solusi alat pengangkutan komersial sesuai kebutuhan operasional.
Baca Juga
Intan Baru Prana (IBFN) Ubah Bisnis, Kinerja Keuangan Diprediksi Bangkit
Perseroan juga mencatat sejumlah tantangan yang masih harus diantisipasi. Salah satunya, persaingan ketat di antara penyedia jasa rental, khususnya dari pemain besar dengan armada dan jaringan operasional lebih luas.
Selain itu, biaya operasional tinggi meliputi perawatan unit, konsumsi bahan bakar, hingga mobilisasi alat antar proyek tetap menjadi faktor yang harus dikelola secara cermat. Tantangan lainnya berupa permintaan yang fluktuatif, bergantung kondisi ekonomi, musim, serta jadwal pengerjaan proyek pemerintah maupun swasta.
Di sisi sumber daya manusia, keterbatasan tenaga ahli seperti operator berpengalaman dan teknisi alat berat bersertifikat di beberapa wilayah juga masih menjadi perhatian. Risiko kerusakan unit dan potensi keterlambatan pembayaran pelanggan turut memengaruhi arus kas dan jadwal penyewaan.
Meski demikian, Perseroan tetap optimistis melihat peluang pertumbuhan. Peningkatan proyek infrastruktur nasional dan daerah seperti pembangunan jalan, jembatan, dan bendungan diproyeksikan terus mendorong permintaan layanan rental alat berat.
Aktivitas pertambangan dan energi di wilayah Kalimantan serta daerah lainnya juga membuka peluang baru. Sektor perkebunan dan agribisnis diperkirakan memberikan kontribusi positif mengingat tingginya kebutuhan alat berat untuk pembukaan dan perawatan lahan.
Selain itu, tren sewa dibanding beli yang semakin berkembang di kalangan kontraktor dan pengembang menjadi potensi baru bagi keberlanjutan kinerja. Perkembangan digitalisasi dan platform penyewaan berbasis digital turut membuka akses pasar yang lebih luas.
Peluang kerja sama dengan pemerintah, BUMD, dan perusahaan besar disebut sebagai ruang pertumbuhan yang akan terus dioptimalkan.

