Laba Tak Sesuai Ekspektasi, Target Saham Surya Semesta (SSIA) Dipangkas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Target kinerja keuangan dan harga saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) direvisi turun, seiring dengan raihan kinerja keuangan hingga kuartal III-2025 tak sesuai ekspektasi pasar, khususnya pelemahan pra-penjualan (marketing sales) lahan industri dan penurunan kinerja bisnis hotel.
Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 6 miliar atau baru mencapai sekitar 2–3% dari target tahun buku 2025. Meski demikian, prospek jangka panjang kawasan industri Subang Smartpolitan tetap solid, terutama sebagai pusat pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV hub).
Baca Juga
Surya Semesta (SSIA) Pertahankan Dividen 30%, Fokus Genjot Subang Smartpolitan
Rendahnya realisasi kinerja tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas memangkas turun target laba bersih SSIA tahun ini dari semula Rp 304 miliar menjadi Rp 201 miliar. Begitu juga degan perkiraan laba bersih tahun 2026 dipangkas dari semula Rp 414 miliar menjadi Rp 288 miliar. Adapun target harga saham SSIA dipangkas dari semula Rp 2.475 menjadi Rp 2.050 dengan rekomendasi beli.
Sumber: BRI Danareksa Sekuritas
Analis BRI Danareksa Sekuritas Ismail Fakhri Suweleh mengatakan, SSIA baru mencatatkan pra-penjualan seluas 6 hektare dari target 17 hektare di Karawang dan 12 hektare dari target 120 hektare di Subang. Sedangkan penjualan lahan yang tengah diproses dari produsen alat berat mencapai 16–20 hektare dan produsen otomotif asal Tiongkok seluas 80–90 hektare yang diharapkan tuntas pada kuartal IV-2025.
Meski target marketing sales tak sesuai harapan, SSIA tetap mempertahankan marketing sales tahun 2025, namun memperkirakan normalisasi penjualan di 2026 menjadi hanya 15–35 hektare di Karawang dan 60 hektare di Subang. Perseroan akan fokus menjaring calon investor dari Korea Selatan dan Jepang bekerja sama dengan Sumitomo Group.
Baca Juga
Selain penjualan lahan industry, kinerja SSIA tertekan atas pelemahan segmen perhotelan. Pendapatan hotel turun 58% secara tahunan (yoy) akibat penurunan tingkat hunian di Melia Jakarta (40%) dan renovasi yang tengah berjalan di Melia Bali. Akibatnya, target pendapatan dan laba bersih SSIA dipangkas. Proyeksi laba bersih 2025–2026 direvisi turun sebesar 34% dan 30%, masing-masing menjadi Rp 201 miliar dan Rp 288 miliar.
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan saham SSIA tetap menarik meski target harga dipangkas menjadi Rp 2.050. Saat ini, saham SSIA ditransaksikan dengan diskon terhadap RNAV menjadi 58% dan prospek jangka panjang masih menarik. Saham SSIA juga didukung prospek jangka panjang Subang Smartpolitan sebagai kawasan industri berbasis EV didukung oleh tenaga kerja berbiaya rendah.

