Pendapatan MBMA Kuartal III-2025 Turun 32%, Produksi Tambang Tetap Tumbuh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat pendapatan belum diaudit sebesar US$ 935 juta atau sekitar Rp 15,61 triliun hingga kuartal III-2025, turun 32% year-on-year (yoy) dibandingkan periode sama tahun lalu.
Meski pendapatan menurun, kinerja operasional MBMA tetap menunjukkan peningkatan produksi dan efisiensi biaya di berbagai lini. Laporan keuangan kuartal III-2025 masih dalam proses audit untuk mendukung evaluasi strategis dan potensi aksi korporasi mendatang.
Baca Juga
Produksi Emas & Tembaga Naik, Saham Merdeka Copper (MDKA) Direkomendasikan Beli
“Audit ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi apabila di kemudian hari terdapat rencana aksi korporasi yang memerlukan laporan keuangan yang telah diaudit,” ujar Sekretaris Perusahaan MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo.
Presiden Direktur MBMA Teddy Oetomo menjelaskan, penurunan pendapatan terutama berasal dari segmen Nickel Pig Iron (NPI) yang turun US$ 102,3 juta, serta produk High-Grade Nickel Matte (HGNM) yang terkoreksi US$ 418,8 juta.
Koreksi tersebut sebagian dikompensasi oleh kenaikan pendapatan dari limonit dan segmen lainnya dengan tambahan kontribusi US$ 76,3 juta. “Kinerja kuat pada kuartal ini mencerminkan peningkatan struktural di seluruh rantai nilai, mulai dari penambangan hingga pengolahan,” ujar Teddy dalam keterangannya, Rabu (12/11/2025).
Baca Juga
Target Kinerja dan Saham Astra (ASII) Direvisi Naik, Berikut Faktor Pendorong
Anak usaha MBMA, PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), mencatat lonjakan produksi saprolit sebesar 89% (yoy) dan limonit naik 51% (yoy) hingga September 2025. Total produksi saprolit mencapai 2 juta ton basah (wmt), sedangkan limonit 5,6 juta wmt, didukung kapasitas penambangan lebih besar dan efisiensi operasional.
Tambang SCM juga berhasil menekan biaya tunai saprolit menjadi US$ 23,3 per wmt dari sebelumnya US$ 23,8 per wmt, dengan margin kas naik 49% (QoQ). Sementara biaya tunai limonit turun menjadi US$ 7,9 per wmt dari US$ 9,9 per wmt, dengan margin kas meningkat 20% (yoy) dan 46% (QoQ).
Pada kegiatan pengolahan, margin NPI naik menjadi US$ 2.215 per ton nikel, meski produksi turun menjadi 19.819 ton. Peningkatan margin tersebut didukung penurunan biaya tunai 16% (yoy) menjadi US$ 9.059 per ton. “Peningkatan ini dicapai melalui optimalisasi pasokan bijih saprolit internal dan efisiensi biaya di seluruh rantai operasi,” kata manajemen MBMA.

