Laba Merdeka Battery (MBMA) Kuartal III Naik 37% Meski Pendapatan Melorot
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencetak laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 25,3 juta pada kuartal III-2025 atau naik 37,04% (yoy).
Padahal, pendapatan anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) itu, turun 32,23% (yoy) menjadi US$ 934,99 juta.
“Perseroan mencatat peningkatan keuntungan dan penguatan kinerja operasional di seluruh bisnis nikel terintegrasi MBMA,” jelas Presiden Direktur Merdeka Battery Materials Teddy Oetomo dalam keterangan resmi yang dikutip pada Jumat (19/12/2025).
Perusahaan mencatat pertumbuhan signifikan pada penjualan bijih nikel, meskipun produksi Nickel Pig Iron (NPI) menurun akibat pemeliharaan terjadwal fasilitas smelter serta pengurangan strategis produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) pada paruh pertama 2025.
EBITDA Merdeka Battery Materials meningkat 22% menjadi US$ 140 juta, yang diklaim mencerminkan ketahanan margin di tengah dinamika operasional dan biaya.
“Kinerja sembilan bulan pertama tahun ini menegaskan fokus MBMA pada penciptaan nilai, bukan semata peningkatan volume,” imbuh Teddy.
Sepanjang Januari-September 2025, tambang nikel SCM memproduksi 14,5 juta ton bijih, meningkat 68% dibandingkan periode sama tahun lalu. Peningkatan produksi ini terdiri dari kenaikan produksi limonit sebesar 48% dan saprolit sebesar 135% dibandingkan Januari-September 2024.
Baca Juga
Margin Diprediksi Pulih, Begini Target Harga Saham Merdeka Battery (MBMA)
Margin bijih nikel tetap terjaga sepanjang 9M 2025, meski terdapat dampak dari penerapan mandatori bahan bakar B40, serta kenaikan tarif royalti.
Teddy juga menyebut, margin tetap terjaga karena MBMA berhasil menekan biaya melalui disiplin operasional dan peningkatan efisiensi. Perseroan mencatat biaya kas sesuai panduan, yakni di bawah US$ 25 per wet metric ton (wmt) untuk saprolit dan US$ 13 per wmt untuk limonit.
Selama periode tersebut, smelter Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) menghasilkan 52.863 ton NPI, turun 17% (yoy) akibat pemeliharaan RKEF yang telah dijadwalkan. Meski demikian, hingga kuartal III-2025 MBMA mencatat margin NPI yang kuat sebesar US$ 1.866 per ton nikel (tNi).
“Perbaikan margin NPI dan biaya kas mencerminkan manfaat dari model terintegrasi penambangan hingga pengolahan, khususnya melalui peningkatan penggunaan bijih saprolit dari sumber internal serta solusi energi yang lebih efisien,” sambung Teddy.
Perbaikan margin NPI didukung oleh berkurangnya ketergantungan pada pasokan saprolit pihak ketiga, serta penggunaan sumber energi yang lebih terintegrasi.
Saat ini, 80% bijih nikel yang digunakan pada fasilitas RKEF berasal dari Tambang SCM, meningkat dari 48% pada Januari-September 2024. Pada Oktober 2025, MBMA kembali memulai produksi HGNM setelah memperoleh kontrak dengan ketentuan ekonomi yang lebih menguntungkan.
Produksi HGNM sebelumnya dihentikan sementara pada Maret 2025 sebagai bagian dari keputusan strategis untuk memprioritaskan produk NPI dengan margin yang lebih tinggi.

