Calon Tambang Tembaga Terbesar Ketiga di Dunia Milik Merdeka Copper Gold (MDKA) Serap Investasi US$ 250 Juta
Poin Penting
|
BANYUWANGI, investortrust.id – PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat, investasi untuk studi kelayakan (feasibility study/FS) Proyek Tembaga Tujuh Bukit di Banyuwangi telah mencapai US$ 250 juta pada 2025.
Berdasarkan kurs jisdor 7 November 2025, calon tambang tembaga dengan produksi terbesar ketiga di dunia itu telah menyerap investasi sekitar Rp 4,17 triliun. “Kalau beroperasi, (Tembaga Tujuh Bukit) akan jadi tambang tembaga terbesar ketiga setelah Freeport dan Amman Mineral,” ujar Head Corporate Communications Merdeka Group Tom Malik, di Banyuwangi, Jumat (7/11/2025).
Berdasarkan hasil FS, Proyek Tembaga Tujuh Bukit dapat menghasilkan lebih dari 110.000 - 120.000 ton tembaga dan 350.000 ounces emas per tahun pada puncak produksinya. Jumlah ini akan dihasilkan dari pemrosesan 24 juta ton bijih per tahun.
Sementara PT Freeport Indonesia sebagai produsen terbesar pertama menghasilkan sekitar 600.000 ton katoda tembaga per tahun, disusul Amman Mineral dari Tambang Batu Hijau Mine sekitar 200.000 per tahun.
“Proyek Tembaga Tujuh Bukit dapat menambah produksi tembaga Indonesia 10-15% ketika beroperasi,” tambah Tom.
Terbaru, manajemen memperbarui info bahwa progres pengembangan tambang bawah tanah (underground) Tujuh Bukit telah menciptakan terowongan sepanjang 2 kilometer dengan kedalaman hampir 100 meter di bawah permukaan laut.
Baca Juga
Rugi Bersih Merdeka Copper (MDKA) Membengkak 26,39% di Semester I 2025
“Saat beroperasi, maksimum bisa sampai 300 meter (di bawah permukaan laut),” imbuh Tom.
Proyek Tembaga Tujuh Bukit merupakan salah satu proyek tembaga terbesar di dunia yang masih dalam fase praproduksi. Merdeka Grup memiliki 100% saham dalam proyek ini, yang terletak di bawah Tambang Emas Tujuh Bukit.
Berdasarkan Mineral Resources Estimate (MRE) per Maret 2024, proyek ini melaporkan peningkatan jumlah sumber daya mineral terindikasi. Total kandungan sumber daya mineral proyek ini, meningkat dari 1.706 menjadi 1.738 juta ton, dengan peningkatan pada sumber daya mineral terindikasi, dari 442 menjadi 755 juta ton.
Sehingga, dari yang semula mengandung 8,1 juta ton tembaga dan 27,4 juta ounces emas, Proyek Tembaga Tujuh Bukit saat ini terindikasi mengandung 8,2 juta ton tembaga dan 27,9 juta ounces emas. Alhasil proyek yang mengandung jenis mineralisasi porfiri tembaga-emas itu diprediksi dapat berproduksi lebih dari 30 tahun.
Dikutip dari laman resmi perseroan, MRE yang sama membuktikan, sebagian besar area sublevel cave yang direncanakan kini sudah berada dalam area sumber daya terindikasi. Sehingga pengeboran lebih lanjut tidak lagi diperlukan karena program pengeboran pada 2022 telah mencapai tujuannya.
Dengan begitu, pengeboran hanya akan dilakukan di permukaan untuk mengonfirmasi tambahan sumber daya oksida emas-perak yang dapat larut. Kemudian mengidentifikasi sumber daya tembaga-emas sulfida yang dapat ditambang secara terbuka untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian produksi awal Proyek Tembaga Tujuh Bukit.
Saat ini, Merdeka fokus mengoptimalkan kinerja dan memulai menyusun bankable feasibility study yang dapat lebih diandalkan. Optimalisasi tersebut mencakup pengembangan metalurgis untuk meningkatkan perolehan logam yang dapat diekstrak dari bijih, peningkatan kualitas bijih yang ditambang, dan penambangan terbuka untuk bijih tembaga tambahan.

