Pertumbuhan Jumlah Investor Melambat, Ini Jawaban Dirut KSEI
JAKARTA, investortrust.id – Pertumbuhan jumlah investor pasar modal tahun ini melambat bila dibandingkan tahun lalu, yakni dari 36,7% pada kurun 2021-2022 menjadi 17,6% pada 2022-2023.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat menjelaskan, melambatnya pertumbuhan jumlah investor pasar modal turut dipengaruhi makroekonomi global pada 2023 yang belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi.
“Saya kira, pasar modal kita pada 2023 memang sedikit melambat pertumbuhannya dibandingkan 2022, akibat terjadinya peningkatan suku bunga yang tinggi. Rezim suku bunga tinggi di Amerika menyebabkan terjadinya perpindahan investasi dari beberapa tempat ke Amerika,” ungkap Samsul menjawab investortrust.id dalam Media Gathering KSEI di Pacific Place, Jakarta, Rabu (27/12/2023).
Namun dia berpendapat, pertumbuhan jumlah single investor identification (SID) tahun ini sudah signifikan dibandingkan tahun lalu, di tengah kondisi geopolitik dan pemulihan ekonomi Indonesia setelah pandemi 2,5 tahun. Samsul mengakui, iklim investasi di Indonesia turut terpukul isu geopolitik, seperti perang Ukraina-Rusia dan Israel-Hamas.
Baca Juga
Belum lagi, perekonomian negara-negara maju, salah satunya Amerika, yang jadi acuan Indonesia juga tidak pulih dengan baik. “Ini sebenarnya berpengaruh terhadap iklim investasi. Jadi pasar modal itu adalah industri yang sifatnya investasi,” tegas Samsul.
Dengan tersedianya infrastruktur yang semakin baik dari hari ke hari, Samsul meyakini investor dapat lebih mudah bertransaksi secara administrasi. Salah satu program unggulan KSEI pada 2024 adalah kemudahan membuka rekening dana nasabah (RDN) di suatu perusahaan efek.
Alhasil, aktivitas transaksi ke depannya diharapkan menjadi lebih mudah lagi karena investor tidak mendapat kesulitan, terutama untuk membuka rekening di broker lain.
Namun dari faktor eksternal pada 2024, Samsul menyebut ada pemilu yang dapat membuat investor wait and see untuk memastikan kebijakan ekonomi yang akan dilakukan menteri terpilih setelah pemilu.
Baca Juga
JP Morgan Sarankan Investor Beli Saham Berkapitalisasi Besar Tahun 2024, Ini Asumsinya
“Tantangannya makin besar hanya kami di pasar modal harus optimistis, memberikan yang terbaik untuk mendukung target jumlah investor yang ditargetkan OJK untuk 2027,” imbuhnya.
Pertumbuhan jumlah investor pasar modal tahun ini yang sekitar 17,6%, sedikit meleset dari target yang disebutkan tahun lalu yang diharap berada pada kisaran 20-30% (yoy).
KSEI mencatat, jumlah investor pasar modal per 20 Desember 2023 ada sebanyak 12,13 juta, terdiri dari jumlah investor saham dan surat berharga lainnya 5,23 juta, reksa dana 11,37 juta, dan surat berharga negara (SBN) 999 ribu.
Sedangkan dari data demografi, investor pasar modal masih didominasi oleh 62,33% laki-laki, 56,47% usia di bawah 30 tahun, 32,99% pegawai negeri, swasta, dan guru, serta 64,73% lulusan SMA. Kemudian, sebanyak 46,32% investor berpenghasilan Rp 10-100 juta per bulan dan 68,14% berdomisili di Pulau Jawa.
Baca Juga
Investor OpenAI Prediksi AI akan Ubah Ekonomi Global dalam 25 Tahun Mendatang
Seiring melambatnya pertumbuhan jumlah investor pasar modal, kinerja reksa dana yang tercatat di KSEI juga menurun 3,76%, dengan jumlah asset under management (AUM) menjadi Rp 767,32 triliun per 20 Desember 2023. Jumlah produk reksa dana turun 6,84% menjadi 2.249 di periode yang sama.
“Penurunan data reksa dana merupakan bagian dari dinamika dan perkembangan industri reksa dana di Indonesia,” aku manajemen KSEI.
Sekadar mengingatkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan jumlah investor sebanyak 25 juta pada 2027. Artinya dalam empat tahun terakhir, harus ada penambahan 12,5 juta investor atau 3 juta SID per tahun. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi tiga SRO, yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI), dan KSEI.

