Dipicu Penghentian Sewa XLSmart, Laba Tower Bersama (TBIG) Turun 5%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mencatatkan kenaikan tipis pendapatan Rp 5,16 triliun sampai kuartal III-2025, dari Rp 5,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tergerus 5% year-on-year (yoy) menjadi Rp 1,1 triliun.
Direktur Utama TBIG Hardi Wijaya Liong menjelaskan bahwa penambahan penyewaan bersih Grup TBIG pada kuartal III-2025 lebih rendah, dibandingkan kuartal sebelumnya. “Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh tidak diperpanjangnya beberapa sewa yang akan berakhir oleh XLSmart, seiring dengan penyesuaian jaringan setelah merger antara XL Axiata dan Smartfren,” ujar Hardi, Kamis (30/10/2025).
Baca Juga
Gandeng TBIG hingga CENT, Surge (WIFI) Perkuat Ekosistem Frekuensi 1,4 GHz
Hingga 30 September 2025, TBIG memiliki 42.771 penyewaan dan 24.318 site telekomunikasi, yang terdiri atas 24.209 menara telekomunikasi dan 109 jaringan distributed antenna system (DAS). Dengan total penyewaan pada menara sebanyak 42.662, rasio kolokasi (tenancy ratio) mencapai 1,76x.
“Kami dengan senang hati melaporkan pertumbuhan organik yang kuat pada kuartal ini, dengan penambahan 540 penyewaan kotor—terdiri dari 327 site telekomunikasi dan 213 kolokasi,” tambah Hardi.
Dari sisi operasional, TBIG membukukan EBITDA sebesar Rp4,44 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Jika disetahunkan, total EBITDA diperkirakan mencapai Rp5,9 triliun.
Baca Juga
Laba Mitratel (MTEL) Naik Jadi Rp 1,54 triliun hingga September 2025
Per 30 September 2025, total pinjaman (debt) TBIG mencapai Rp29,48 triliun, dengan pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp646 miliar. Setelah memperhitungkan saldo kas Rp835 miliar, total pinjaman bersih (net debt) menjadi Rp28,64 triliun. Berdasarkan EBITDA kuartal ketiga yang disetahunkan, rasio net debt terhadap EBITDA tercatat 4,9x.
Sekretaris Perusahaan TBIG Helmy Yusman Santoso menegaskan bahwa manajemen tetap menjaga struktur utang yang tangguh dengan sumber pendanaan yang beragam serta dana belum ditarik dalam jumlah besar.
“Tingkat bunga keseluruhan kami untuk sembilan bulan pertama 2025 mencapai sekitar 6,6%. Kami aktif di pasar obligasi dan pinjaman Rupiah. Penerbitan obligasi Rupiah terbaru dengan tenor 3 tahun dan 5 tahun menunjukkan kemampuan kami menerbitkan instrumen dengan tenor lebih panjang,” jelas Helmy yang juga menjabat sebagai direktur perseroan.
