Rugi AirAsia (CMPP) Hampir Rp 1 Triliun, Pendapatan Justru Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kerugian PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) meningkat tajam pada kuartal III-2025. Rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat membengkak 64,64% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 985,49 miliar, atau hampir menembus Rp 1 triliun.
Padahal, di periode yang sama, pendapatan perusahaan justru tumbuh 2,1% (yoy) menjadi Rp 6,03 triliun. Manajemen menjelaskan bahwa tekanan utama berasal dari rugi selisih kurs, seiring pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang meningkat 3,4% (yoy) pada kuartal III-2025. Kondisi ini berdampak pada kenaikan beban keuangan, terutama biaya operasional berbasis mata uang asing.
Baca Juga
Laba Bersih SMBC Indonesia Terkoreksi 26% Jadi Rp 1,47 Triliun di Kuartal III 2025
Namun, tanpa memperhitungkan rugi selisih kurs, kinerja operasional AirAsia Indonesia sebenarnya menunjukkan perbaikan. Kerugian operasional tercatat turun 17,4% (yoy), yang mencerminkan langkah efisiensi berjalan efektif. Salah satunya terlihat dari penurunan CASK (cost per available seat kilometre) sebesar 2% (yoy). “Hal ini menunjukkan upaya perusahaan untuk mencapai profitabilitas yang berkelanjutan,” ujar Direktur Utama AirAsia Indonesia, Achmad Sadikin Abdurachman, Rabu (29/10/2025).
Achmad menambahkan, pertumbuhan pendapatan didorong oleh tren positif perjalanan udara dan peningkatan efisiensi operasional. Pada kuartal ini, jumlah penumpang mencapai 4,44 juta, yang turut mengangkat pendapatan inti maupun pendapatan tambahan.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Polri Harus Jadi Polisi Rakyat, Garda Terdepan Lawan Kejahatan
Penjualan kursi tetap menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 5,08 triliun. Sementara itu, pendapatan ancillary seperti bagasi, jasa penerbangan, kargo, charter dan layanan tambahan lainnya menyumbang Rp 945,67 miliar, tumbuh 6% (yoy).
Sepanjang kuartal III-2025, AirAsia Indonesia mengoperasikan 29.731 penerbangan, menyediakan kapasitas 5,35 juta kursi, dan membukukan load factor sebesar 83%. Hingga akhir September 2025, jaringan penerbangan perseroan mencakup 22 destinasi internasional dan 8 destinasi domestik, mendukung mobilitas dan pertumbuhan pariwisata nasional.

