Kepemilikan Asing di Saham Indonesia Turun ke 42%, Analis: Dekati Level Terendah Historis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kepemilikan investor asing di saham Indonesia menunjukkan konsistensi penurunan dalam 18 bulan terakhir hingga mencapai 42,1% dari total free float saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Angka ini menjadi yang terendah sejak Desember 2022, namun sedikit di atas level historis terendah 39,6% pada September 2021.
Berdasarkan data KSEI, sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD), aliran dana asing tercatat senilai US$ 3,4 miliar, dengan arus masuk 12 bulan terakhir mencapai US$ 5,5 miliar dan 24 bulan terakhir sebesar US$ 2,2 miliar. Namun, pelepasan kepemilikan asing terutama terjadi pada sektor perbankan, konsumer, dan ritel. Saham dengan net sell terbesar melanda saham BMRI, BBNI, BBCA, ICBP, ACES, serta MAPI.
Baca Juga
Menkeu Purbaya Ajak Jajaran Kemenkeu Pahami Tantangan Ekonomi Global
Sebaliknya saham sektor logam justru menjadi tujuan akumulasi oleh investor asing, didominasi saham ANTM. Sedangkan net sell terbanyak saham dalam sebulan terakhir dicatatkan BBCA Rp 6,10 triliun, ADRO Rp 1,23 triliun, KLBF Rp 400,62 miliar, CPIN Rp 267,71 miliar, dan WIFI Rp 264,58 miliar. Kondisi berbeda dengan net buy saham dalam sebulan terakhir disumbangkan BBRI Rp 3,73 triliun, AMMN Rp 3,36 triliun, ASII Rp 1,70 triliun, TLKM Rp 1,51 triliu, dan CUAN Rp 1,32 triliun.
Saat ini, kepemilikan asing di sektor perbankan telah mencapai level terendah secara historis, bahkan di bawah periode pandemi COVID-19. Tercatat, kepemilikan asing di BBCA setara dengan level September 2020 sebesar 78%. Begitu juga dengan BMRI dan BBRI yang posisinya kini di bawah level terendah saat COVID-19. Sebaliknya, sektor logam dimotori saham ANTM dan BRMS mencatat kenaikan kepemilikan asing dibandingkan posisi Desember 2022.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan, Selasa (9/9/2025), menyebutkan bahwa rendahnya kepemilikan asing ini justru dapat menjadi bantalan terhadap risiko penurunan lebih lanjut. Hal ini bisa dilihat dari pengalaman sebelumnya setelah kepemilikan asing mencapai titik terendah, pemodal asing mulai masuk pasar, seperti yang dialami di BBRI, UNVR, dan ASII.
Baca Juga
Pengalaman LPS & Pasar, Purbaya Yudhi Sadewa Dinilai Bisa Perkuat Stabilitas Ekonomi
Prospek pemulihan pasar saham nasional juga didukung valuasi yang relatif murah di sektor utama, yakni perbankan di 1,9x PBV (-1,5 standar deviasi dari rata-rata 5 tahun), konsumer di 11,9x forward PE (-1,5 standar deviasi), dan telekomunikasi di 4,8x EV/EBITDA (-0,6 standar deviasi).
Dengan prospek pertumbuhan bursa saham yang dinilai masih kompetitif dibandingkan negara emerging market lain, target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap dipertahankan di level 7.960. Adapun saham unggulan yang direkomendasikan beli meliputi saham, BBCA, TLKM, ISAT, BRMS, dan INCO.

