BI Turunkan Suku Bunga Jadi 5%, CAR Bank Tetap Solid, BWS Unggul di KBMI II
JAKARTA, investortrust.id – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2025 menetapkan penurunan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,00% guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam kondisi kebijakan moneter yang akomodatif, permodalan industri perbankan tetap solid dan terjaga diharapkan berdampak terhadap saham sektor ini.
Data BI mencatat, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) industri perbankan nasional mencapai 25,81% per Juni 2025. Dengan suku bunga acuan lebih rendah serta permodalan bank yang kuat, hal ini diharapkan menjadi katalis positif untuk ekspansi kredit.
Baca Juga
Saat Ekonomi RI Bertumbuh 5,12%, BWS Fokuskan Kredit Segmen Industri Prospektif Ini
“Transmisi kebijakan moneter memang tidak terjadi instan. Namun dengan CAR yang memadai, bank memiliki ruang untuk menyalurkan kredit. Pada akhirnya, pertumbuhan kredit akan tertranslasi menjadi pertumbuhan ekonomi,” jelas analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi.
Ia menambahkan, ketahanan permodalan yang solid mencerminkan kekuatan sektor keuangan Indonesia di tengah gejolak ekonomi global yang menantang. Permodalan kuat bukan hanya dimiliki bank-bank besar kategori KBMI IV, tetapi sejumlah bank lebih kecil, termasuk KBMI II.
Salah satu bank KBMI II yang menonjol adalah PT Bank Woori Saudara Tbk (SDRA) atau BWS, anak usaha Woori Bank Korea (WBK). Per Juni 2025, BWS mencatat CAR Tier-1 sebesar 29,94% dan Rasio Total Modal 31,1% dengan modal inti utama (CET 1) mencapai Rp11,4 triliun. Angka tersebut melampaui rata-rata industri perbankan nasional.
Baca Juga
Kinerja Semester I Tetap Positif, Bank Woori Saudara (BWS) Ungkap Sejumlah Strategi Ini
“CAR yang tinggi menjadi pondasi kuat bagi bank dalam menyerap risiko kredit. Bagi kelompok bank Korea seperti BWS, dukungan induk memberikan fleksibilitas untuk ekspansi sekaligus memperkuat tata kelola (governance),” tambah Leo.
BWS juga konsisten mempertahankan kecukupan modal di atas industri. Sejak Juni 2024 hingga Juni 2025, rasio total modal BWS stabil di atas 30%, atau 5 poin persentase lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Baca Juga
Bank Mandiri Sambut Positif Penurunan BI Rate, Perkuat Peran Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Selain itu, kinerja Net Interest Margin (NIM) BWS tetap terjaga meski industri menghadapi kenaikan biaya dana (Cost of Fund/CoF). Pada periode Januari–Juni 2025, pendapatan bunga bersih BWS tumbuh 4,14% menjadi Rp871,02 miliar, dengan NIM meningkat ke 3,29%.
Menurut Leo, penurunan suku bunga acuan BI dipadukan dengan modal bank yang solid memberikan peluang perbankan untuk mengakselerasi penyaluran kredit dan menjaga NIM. “Pada akhirnya, bank dengan permodalan kuat dan NIM terjaga akan lebih tahan banting di tengah ketidakpastian ekonomi,” pungkasnya.

