Disebut Tewas, Ini Kisah Pimpinan Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei hingga ke Tampuk Kekuasaan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Kabar kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menyebar luas setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim bahwa Khamenei telah tewas dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat yang menyasar kawasan kediamannya di Teheran pada Sabtu (28/2/2026).
Dalam pernyataannya yang dikutip Reuters, Netanyahu menyebut terdapat banyak indikasi yang menunjukkan bahwa Khamenei tidak lagi hidup. “Ada banyak tanda yang mengindikasikan Khamenei sudah tidak ada lagi,” ujar Netanyahu, meski ia tidak secara eksplisit mengonfirmasi kematian Khamenei.
Klaim kematian Khamenei sendiri langsung dibantah oleh pemerintah Iran, yang menegaskan bahwa Ayatullah Ali Khamenei berada dalam kondisi sehat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam wawancara dengan Sky News menegaskan bahwa kepemimpinan Iran berada dalam kondisi aman. Baghaei menyatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran “aman dan sehat”, sekaligus menepis klaim Israel mengenai tewasnya Ayatullah Ali Khamenei.
Siapakah Ali Khamenei yang perannya begitu sentral dalam pemerintahan Republik Islam Iran, di atas posisi Masoud Pezeshkian selaku presiden Iran. Simak profil Ayatullah Ali Khamenei dan kehidupan politiknya, seperti dikutip dari iranintl.com.
Baca Juga
Netanyahu Klaim Khamenei Tewas, Iran Tegaskan Pemimpin Tertinggi Dalam Keadaan Sehat
Dari Mashhad ke Puncak Kekuasaan
Ayatollah Ali Khamenei lahir pada April 1939 di Mashhad, kota suci penting dalam tradisi Syiah. Ia tumbuh dalam keluarga ulama sederhana. Ayahnya, Seyyed Javad Khamenei, dikenal sebagai ulama asketis yang menjalani hidup bersahaja.
Sejak kecil, Khamenei telah menempuh pendidikan keagamaan. Setelah belajar di Mashhad, ia melanjutkan studi ke Qom, pusat pendidikan ulama Syiah Iran. Di sana, ia berkenalan dengan tokoh-tokoh penting revolusi, termasuk Rohullah Khomeini dan Akbar Hashemi Rafsanjani. Pemikiran politik Khomeini tentang “pemerintahan Islam” membentuk orientasi ideologis Khamenei dan menyeretnya ke dalam perlawanan terhadap monarki Pahlavi.
Pada dekade 1960-an hingga 1970-an, Khamenei berulang kali ditangkap, dipenjara, dan diasingkan karena aktivitas revolusionernya melawan Shah Iran. Ia juga dikenal sebagai penerjemah dan penyebar gagasan Islam politik, yang membentuk identitas intelektualnya sekaligus memperluas pengaruhnya di kalangan ulama muda dan aktivis revolusi.
Setelah Revolusi Islam 1979, Khamenei dengan cepat masuk ke inti kekuasaan Republik Islam Iran. Ia menjadi anggota Dewan Revolusi, terlibat dalam restrukturisasi militer, serta berperan dalam pembentukan dan penguatan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Kedekatannya dengan Khomeini dan kemampuannya membangun jaringan loyalitas menjadikannya bagian dari lingkaran pengambil keputusan utama.
Pada 1981, Khamenei selamat dari upaya pembunuhan saat berpidato di Masjid Abuzar, Teheran. Ledakan bom yang disembunyikan dalam pemutar kaset melumpuhkan lengan kanannya secara permanen. Peristiwa ini memperkuat citranya sebagai ulama yang “terluka di jalan revolusi”.
Masih pada tahun yang sama, setelah Presiden Mohammad Ali Rajaei tewas dibunuh, Khamenei terpilih menjadi Presiden Iran dan menjabat selama dua periode hingga 1989. Masa kepresidenannya bertepatan dengan Perang Iran–Irak.
Meski kewenangan presiden terbatas, ia memanfaatkan posisinya untuk membangun hubungan strategis dengan komandan IRGC dan elite keamanan—jaringan yang kelak menjadi fondasi kekuasaannya.
Kematian Khomeini pada Juni 1989 memicu krisis suksesi. Konstitusi saat itu mensyaratkan pemimpin tertinggi harus berstatus marja taklid, syarat yang tidak dimiliki Khamenei. Namun, melalui sidang darurat Majelis Ahli dan peran kunci Rafsanjani, Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin sementara.
Baca Juga
Sekutu AS di Teluk Ikut Kena Balasan Iran, Bandara Kuwait Jadi Sasaran Drone Shahed
Sekadar informasi, dalam tradisi perpolitikan Republik Islam Iran, Marja taklid adalah ulama Syiah berperingkat tertinggi yang memiliki otoritas keagamaan untuk mengeluarkan fatwa dan penafsiran hukum Islam yang menjadi rujukan (atau taqlid) bagi para pengikut yang bukan ahli hukum (mukallid).
Beberapa bulan kemudian, konstitusi diubah dan syarat tersebut dihapus.
Pada November 1989, ia resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.
Sejak saat itu, Khamenei secara bertahap memusatkan kekuasaan di tangannya. Lembaga-lembaga negara—peradilan, Dewan Garda, media negara, hingga Dewan Keamanan Nasional—berada di bawah pengaruh langsungnya. IRGC berkembang dari kekuatan militer revolusioner menjadi aktor dominan dalam politik, ekonomi, dan keamanan nasional.
Di tingkat regional, Khamenei merancang strategi “Poros Perlawanan” untuk menghadapi Amerika Serikat dan Israel. Melalui dukungan finansial dan militer, Iran memperluas pengaruhnya ke kelompok dan rezim sekutu seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, milisi Syiah di Irak, kelompok Houthi di Yaman, serta pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah.
Namun, pada 2024–2025, poros ini mengalami pukulan besar akibat serangan Israel dan Amerika Serikat.
Khamenei juga dikenal sangat curiga terhadap Barat. Ia mendorong kebijakan “melihat ke Timur” dengan mempererat ketergantungan strategis Iran pada Rusia dan Tiongkok, langkah yang semakin mengisolasi Iran dari dunia Barat.
Baca Juga
Israel Luncurkan Serangan Pendahuluan ke Iran, Ketegangan Timur Tengah Meningkat
Di dalam negeri, setiap gelombang protes—dari Gerakan Hijau 2009 hingga demonstrasi besar 2017, 2019, dan 2022—dihadapi dengan represi keras. Khamenei secara konsisten menyebut protes sebagai bagian dari konspirasi asing, menutup ruang dialog dan memperlebar jurang antara negara dan masyarakat.
Puncaknya terjadi pada Januari 2026, ketika gelombang protes nasional berujung pada penindakan yang sangat keras. Laporan berbagai sumber menyebut ribuan hingga puluhan ribu orang tewas dalam operasi keamanan besar-besaran.
Jika kabar kematian Khamenei benar, maka Republik Islam Iran menghadapi ujian terbesarnya. Sistem yang selama puluhan tahun dipusatkan pada satu figur kini harus berdiri tanpa sosok tersebut. Apakah ini akan menjadi awal transisi menuju perubahan, atau justru membuka babak baru krisis, masih menjadi pertanyaan besar, hingga kepastian bahwa Khamenei benar tewas dalam serangan AS dan Israel.

