Tambah Kapasitas 600 MW, PGEO Bicara Rencana Penerbitan Obligasi
JAKARTA, investortrust.id – Emiten yang fokus pada pengembangan energi baru terbarukan, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memacu kapasitas produksi panas bumi dengan target sebesar 600 MegaWatt (MW) dalam tempo 5 tahun ke depan.
Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Nelwin Aldriansyah mengatakan, saat ini jumlah kapasitas terpasang panas bumi yang dimiliki Perseroan mencapai 672 MW dan akan bertambah sebanyak 340 MW dalam dua tahun ke depan, sehingga kapasitas terpasang akan mencapai 1.012 MW pada akhir tahun 2025 atau awal tahun 2026.
‘’Tambahan 340 MW merupakan bagian dari pipeline 600 MW yang kita harapkan bisa tercapai dalam tempo lima tahun ke depan,’’ urai Nelwin saat ditemui di acara ESG Disclosure Transparency Awards 2023 yang digelar oleh investortrust.id dan Bumi Global Karbon, Rabu malam (30/11/2023).
Baca Juga
Anak Usaha ELSA Gandeng PGEO, Kembangkan Digitalisasi Transisi Energi Terbarukan
Nelwin menjelaskan, untuk mencapai target tersebut pihaknya tengah mengembangkan tambahan kapasitas pada tiga proyek, yaitu pembangunan Powerplant di Lumutbalai dengan kapasitas 55 MW, kemudian proyek Hululais dengan total 110 MegaWatt serta PLTP Lahendong 7 dan 8 dengan kapasitas 40 MW.
Di luar itu kata dia, masih ada potensi pengembangan kapasitas hingga 60 MW di PLTP Kamojang yang bisa digarap dalam 5 tahun ke depan. ‘’Jadi sebanyak 165 MW kapasitas yang dibangun menggunakan teknologi panas bumi konvensional, sedangkan 175 MW menggunakan teknologi binary,’’ paparnya.
Terkait teknologi binary ini, PGEO telah melakukan uji coba di area Lahendong dengan kapasitas 700 KiloWatt dan berjalan baik sejak Desember 2023. Karena itu dirinya optimistis teknologi ini juga bisa digunakan di area operasi lainnya dalam rangka menambah kapasitas.
Baca Juga
Garap Panas Bumi di Kotamobagu, Pertamina Geothermal (PGEO) Gandeng Chevron dan Mubadala
Terkait sumber pendanaan, Nelwan bilang, untuk pengembangan kapasitas sebesar 340 MW, pihaknya menggunakan dana hasil initial public offering yang saat ini masih tersisa sebanyak US$ 460 juta dari total dana hasil IPO US$ 600 juta.
Kebutuhan investasi tersebut akan ditambah dengan tambahan cash flow sebesar sekitar US$ 100 juta per tahun dari laba ditahan. ‘’Kita estimasi bisa generate cash flow sebesar US$ 200 juta per tahun, sebelum dividen. Dengan asumsi dividen sebesar US$ 100 juta, masih ada sisa US$ 100 juta yang bisa digunakan untuk kebutuhan ekspansi kapasitas,’’ urainya.
Dana hasil IPO dan cash flow tersebut diperkirakan hanya bisa digunakan untuk tambahan kapasitas 340 MW atau hingga 2 tahun ke depan, selanjutnya untuk mengejar target 600 MW pihaknya harus mendapat dukungan pendanaan eksternal.
‘’Penerbitan obligasi menjadi opsi yang saat ini menjadi pertimbangan Perseroan, tapi ini akan kami lakukan sekitar 2 tahun mendatang’’ pungkas Nelwin.
