Dua Faktor Ini Disebut Jadi Pemicu Harga Emas di Indonesia Terus Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga emas di Indonesia menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Menariknya, lonjakan harga ini justru dibarengi dengan meningkatnya minat masyarakat untuk membeli emas, bukan malah menjual.
Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) Sandra Sunanto mengungkapkan, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas di Indonesia, yaitu harga emas dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
“Sebenarnya yang unik di Indonesia adalah karena harga emas di Indonesia bergantung pada dua hal, yaitu harga emas dunia, dan kurs rupiah terhadap dolar AS. Jadi sangat bergantung pada dua hal ini,” ujarnya dalam Podcast Konvergensi, di Kantor Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Jumat (25/7/2025).
Baca Juga
Hartadinata (HRTA) Kembali Masuk Daftar Fortune 500 Southeast Asia 2025
Menurut Sandra, perilaku konsumen emas di Indonesia juga cenderung berbeda dari yang umum terjadi di pasar komoditas lain. Justru saat harga emas sedang naik dan terus menunjukkan tren penguatan, permintaan justru melonjak. Sebaliknya, ketika harga emas menurun, tak serta merta membuat masyarakat langsung membeli emas dalam jumlah besar.
“Kalau bisnis emas memang unik dari pengalaman kami lebih dari 30 tahun di bisnis ini. Jadi orang membeli emas di Indonesia itu tidak menunggu harga turun, justru yang interesting adalah waktu harga naik dan terus naik dari hari ke hari maka demand-nya akan tinggi,” katanya.
“Dan begitu harga emas sedang turun, tidak juga banyak orang yang membeli. Begitupun ketika harga emas sedang tinggi, tidak banyak juga orang yang menjual,” sambung Sandra.
Baca Juga
Hartadinata (HRTA) Sebut Permintaan Emas Batangan Naik, Meski Daya Beli Menurun
Saat ini, lanjut Sandra, juga terjadi pergeseran budaya terkait kepemilikan emas di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial.
Jika dulu emas lebih dikenal sebagai bagian dari budaya orang tua dan nenek moyang yang menyimpannya sebagai bentuk investasi, kini peran media sosial dan edukasi mulai membentuk kesadaran baru di generasi muda mengenai pentingnya emas sebagai bagian dari portofolio keuangan.
“Kami juga mengedukasi generasi muda agar menjadikan emas sebagai bagian dari portofolio investasi. Dulu saya sering menyampaikan bahwa minimal 10% dari portofolio harus berbentuk emas. Tapi kalau kita lihat pembahasan terakhir dari Robert Kiyosaki, justru sekarang portofolio emas sebaiknya ditingkatkan menjadi 30%,” kata Sandra.
Ia menyatakan, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang paling tahan terhadap gejolak ekonomi.
“Dalam perjalanan sepanjang yang kami pahami di bisnis ini, sebetulnya dalam situasi ekonomi yang sulit, biasanya investor atau masyarakat melihat bahwa emas adalah salah satu investasi yang paling bertahan dalam situasi tersebut,” ucap Sandra.

