TBLA Pacu Produksi Biodiesel, Target Harga Sahamnya Dinaikkan Menjadi Rp1.200
JAKARTA, investortrust.id – PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) menunjukkan kinerja impresif di segmen biodiesel yang bisa menjadi optimisme pasar terhadap prospek emiten ini dalam jangka menengah hingga panjang. Hal ini mendorong target harga saham TBLA direvisi naik dengan rekomendasi dipertahankan beli.
Sucor Sekuritas dalam riset hari ini mempertahankan rekomendasi beli saham TBLA dengan target harga dinaikkkan menjadi Rp 1.200. Target harga tersebut mempertimbangkan lompatan laba bersih perseroan tahun ini menjadi Rp 840 miliar, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 700 miliar. Kenaikan laba ini diprediksi terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga
IHSG Dibuka Menguat 0,35% Terdorong Saham Emiten Prajogo Ini
Analis Sucor Sekuritas Niko Pandowo mengatakan, revisi naik target harga saham TBLA menjadi Rp 1.200 tersebut juga didukung oleh peningkatan volume produksi, prospek kebijakan energi nasional, dan potensi kenaikan dividen. Target harga tersebut juga mempertimbangkan metode valuasi P/E dan EV/EBITDA di kisaran 8,3x dan 5,7x.
Hingga kuartal I-2025, TBLA membukukan lonjakan penjualan biodiesel hingga 177 ribu kiloliter (KL) atau 114% secara tahunan (yoy) berkat kontrak pengiriman untuk tahun fiskal 2025 sebanyak 809 ribu KL. Peningkatan ini didorong pengoperasian pabrik biodiesel kedua, sehingga kapasitas produksi naik dari 315 ribu ton per tahun (ktpa) menjadi 765 ktpa dengan tingkat utilisasi kontrak baru mencapai 82%.
Peningkatan kapasitas produksi tersebut menjadikan pendapatan dari segmen biodiesel melesat menjadi Rp 2,6 triliun (+172% yoy). Kinerja kinclong segmen tersebut berhasil menutup penurunan pendapatan dari segmen gula sebesar 37% menjadi Rp 1,31 triliun.
Baca Juga
Stock Split Petrindo Jaya (CUAN) Diperdagangan Hari Ini, Bakal Lanjut Naik?
Selain faktor tersebut, dia mengatakan, TBLA diuntungkan rencana kebijakan untuk menaikkan B40 ke B50 sebagai bagian dari strategi mencapai swasembada energi dalam lima tahun ke depan. Usai implementasi B40, permintaan biodiesel meningkat menjadi 15,7 juta KL (+13% yoy). “Jika B50 diberlakukan pada 2026, proyeksi permintaan dapat naik ke sekitar 19 juta KL yang secara langsung akan menguntungkan produsen, seperti TBLA,” tulisnya.
Niko menambahkan, TBLA juga didukung potensi imbal hasil dividen rata-rata 8,2% dalam tiga tahun ke depan dengan asumsi payout ratio 40%. Setelah belanja modal (capex) untuk pabrik biodiesel kedua selesai pada 2024, arus kas bebas (free cash flow/FCF) diprediksi meningkat, sehingga perusahaan bisa menaikkan payout ratio hingga 60% dengan potensi yield menjadi level 12,3% dalam jangka menengah.

