Saham HELI dan PTSP Tetap ARA, Meski Masuk UMA, Ternyata Kinerjanya Begini
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) dan PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) bergerak melesat hingga auto reject atas (ARA), padahal kedua saham ini masuk dalam daftar efek yang bergerak di luar kebiasaan (unusual market activity/UMA).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham HELI melesat Rp 52 (34,21%) menjadi Rp 204. Begitu juga dengan saham PTSP melambung hingga ARA dengan kenaikan 24,91% menjadi Rp 3.660.
Baca Juga
Saham PURI, SOTS, PTSP, HELI, dan BMAS Kompak Masuk UMA, Berikut Pemicunya
PH Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Endra Febri Styawan dan Kepala Divisi Pengaturan & Operasional Perdagangan BEI Pande Made Kusuma Ari A sebelumnya mengatakan, telah terjadi peningkatan harga saham PTSP dan HELI di luar kebiasaan.
“Dalam rangka perlindungan investor, kami menginformasikan bahwa telah terjadi peningkatan harga saham PTSP dan HELI di luar kebiasaan,” tulisnya dalam pengumuman resmi di Jakarta, Rabu (15/11/2023).
Lalu, bagaiman kinerja keuangan kedua emiten tersebut? Berdasarkan data publikasi laporan keuangan terungkap bahwa laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan PTSP naik tipis menjadi Rp 5,84 miliar hingga September 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 5,27 miliar. Kenaikan tersebut menjadikan laba per saham dasar iktu menguat dari Rp 23,9 menjadi Rp 26,5 per saham.
Kenaikan laba tersebut juga sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan dari Rp 413,68 miliar menjadi Rp 457,33 miliar sampai kuartal III-2023. Sedankan laba usaha turun dari Rp 11,83 miliar menjadi Rp 11,40 miliar.
Sedangkan kinerja keuangan HELI justru menunjukkan penurunan dalam. Perseroan mencatatkan rugi tahun berjalan senilai Rp 11,40 miliar sampai September 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu dengan laba tahun berjalan Rp 1,41 miliar.
Baca Juga
Target Kinerja Dipangkas, Tapi Saham Gudang Garam (GGRM) Tetap Direkomendasi Beli
Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan pendapatan dengan kenaikan dari Rp 30,56 miliar menjadi Rp 35,04 miliar. Namun beban pokok pendapatan justru melesat dari Rp 21,30 miliar menjadi Rp 34,41 miliar, sehingga laba bruto anjlok dari Rp 9,25 miliar menjadi Rp 626 juta.

