Masih Sesuai Target, Begini Strategi Danamon (BDMN) Bidik Premi Bancassurance Rp 1,4 Triliun di Tahun 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) atau Danamon menyatakan bahwa kinerja premi dari lini bisnis bancassurance masih sesuai dengan target yang telah ditetapkan di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Sebelumnya, Danamon menargetkan premi dari bisnis bancassurance mampu mencapai Rp 1,4 triliun pada tahun 2025.
Hal itu diungkapkan Head Of Wealth Management Danamon Yulius Ardi dalam acara Journalist Class bertajuk "Menulis Masa Depan: Karena Mimpi Tak Cukup Tanpa Perlindungan" di Menara Danamon, Jakarta, Senin (30/6/2025).
“Hingga pertengahan tahun, capaian masih berjalan sesuai rencana,” ujar Yulius.
Yulius menjelaskan, industri asuransi saat ini tengah menghadapi tantangan yang cukup berat. Terlebih, soal ketidakpercayaan masyarakat terhadap asuransi karena gagal membayar klaim.
Meski begitu, Yulius membeberkan bahwa Danamon tetap optimistis dapat mencapai target premi tersebut hingga akhir tahun.
“Tapi, puji Tuhan, sampai sekarang kita masih on track untuk mencapai target premi kita di akhir tahun nanti,” kata Yulius.
Lebih lanjut, Yulius menyebut, Danamon menjalankan berbagai strategi untuk menggaet lebih banyak nasabah agar dapat mengakses produk dan layanan asuransi dari mitra atau partner. Menurut Yulius, salah satunya adalah dengan menawarkan produk yang relevan dan dibutuhkan nasabah saat ini.
“Tren tahun ini, kita melihat bahwa segmen-segmen terkait dengan penyakit kritis itu masih belum ter-cover. Kemudian juga rencana warisan, rencana legacy, itu juga belum ter-cover. Makanya untuk strategi kita tahun ini adalah kita coba meluncurkan produk-produk yang memang sesuai dengan kebutuhan nasabah-nasabah kami,” jelas Yulius.
Dikatakan Yulius, sebelum meluncurkan produk baru, Danamon akan melakukan riset mendalam terhadap kebutuhan nasabah. Danamon menemukan bahwa masih rendahnya perlindungan terhadap penyakit kritis dan perencanaan warisan (legacy planning) di kalangan nasabah.
Yulius menambahkan, Danamon bersama partner juga menjalankan program edukasi dan sosialisasi produk asuransi kepada nasabah melalui berbagai cara, termasuk dengan menggandeng para praktisi. Sehingga, wawasan nasabah terhadap produk asuransi semakin meningkat.
"Kami aktif mengadakan berbagai event sosialisasi di berbagai acara, serta meluncurkan produk-produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat," ucap Yulius.
Saat ini, indeks literasi dan inklusi keuangan di Indonesia menunjukkan tren yang positif, masing-masing mencapai 66,5% dan 80,5%. Peningkatan ini juga tercermin pada sektor asuransi, di mana tingkat literasi dan inklusi asuransi masing-masing tercatat sebesar 45,5% dan 28,5%.
Meskipun demikian, menurut laporan OJK tahun 2022, penetrasi premi asuransi di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Rendahnya tingkat literasi ini mencerminkan tingginya risiko yang belum dikelola secara optimal. Jika dibiarkan, hal ini membuat masyarakat tidak siap menghadapi berbagai tantangan finansial, baik dalam hal perlindungan kesehatan, bisnis, maupun mitigasi risiko keuangan lainnya.
"Berkaca pada hal tersebut, asuransi menjadi salah satu jalan dan bentuk tanggung jawab di masa depan," terang Yulius.

