Operasional Kuartal II Diprediksi Sesuai Estimasi, Saham Antam (ANTM) Bakal Melaju?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target harga Rp 3.000. Target harga tersebut mengindikasikan sejumlah indikator kinerja operasional yang kuat bersamaan dengan kenaikan harga jual emas.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dalam laporannya usai pertemuan dengan CFO Antam menyebutkan bahwa volume operasional bijih nikel telah hampir mencapai 10 juta wmt pada Juni 2025, rata-rata volume produksi emas pada April-Mei 2025 di atas rata-rata bulanan kuartal I-2025, dan perseroan tengah menunggu konfirmasi untuk bisa menandatangani kontrak penjualan baru Feronikel (FeNi) agar sesuai dengan regulasi pemerintah.
Baca Juga
Terkait tambang nikel Gag di Raja Ampat, laporan tersebut menyebutkan, status penghentian sementara hingga kini, meski demikian izin usaha pertambangan (IUP) masih tetap aktif. Sebanyak 1,8 juta wmt telah berhasil diproduksi dari tambang tersebut sebelum penghentian operasi dari target RKAB sebanyak 3 juta wmt.
Laporan BRI Danareksa Sekuritas juga menyebutkan bahwa semua perizinan dan RKAB tambang ini sesuai aturan dan operasional tambang telah meraih penghargaan Proper Hijau tahun lalu dan Good Mining Practice dari pemerintah.
Terkait volume produksi nikel tahun ini, dia mengatakan, perseroan memiliki kuota sebanyak 16,9 juta wmt, dibandingkan produksi yang hampir mencapai 10 juta ton sampai Juni 2025. Hal ini mendorong ANTM mengajukan tambahan kuota sebanyak 4 juta wmt tahun ini.
Baca Juga
Gantikan Nicolas D Kanter, Antam (ANTM) Angkat Dirut Achmad Ardianto
BRI Danareksa Sekuritas juga mengungkap sejumlah proyek yang tengah digarap perseroan, yaitu proyek RKEF yang dikerjakan Antam dengan CBL telah mencapai final investment decision (FID) untuk kapasitas 88 ribu ton dengan anggaran dana US$ 700 juta. Antam bersama dengan investor strategis telah membentuk perusahaan patungan pengembangan proyek HPAL dengan kapasitas 55 ribu ton dengan kebutuhan investasi US$ 1,4 miliar.
Sedangkan proyek sel bateria IBC tengah menunggu FID. Antam kemudia akan melanjutkan suntikan modal setelah keputusan FID dituntaskan.
Terkait pergerakan harga saham ANTM berhasil torehkan penguatan dengan pembelian bersih (net buy) saham mencapai Rp 1,22 triliun dalam sebulan terakhir, namun harga sahamnya menunjukkan penurunan 7% menjadi Rp 2.940 per saham.

