Meski IHSG Turun 0,14% Pekan Ini, 10 Saham Dipimpin PTMP Bikin Investor makin ‘Tajir’
JAKARTA, investortrust.id – Saat indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini atau 23-27 Juni 2025 kembali melemah tipis 0,14% menjadi 6.897, sebanyak 10 saham ini justru makin melesat. Bahkan, PT Mitra Pack Tbk (PTMP) bisa torehkan lompatan harga 65,57%.
Berdasarkan data BEI, saham PTMP melesat dari level Rp 61 menjadi Rp 101 atau melesat menjadi 65,57%. Penguatan terbesar kedua dicatatkan anak usahanya PT Master Print Tbk (PTMR) sebanyak 55,83% dari Rp 240 menjadi Rp 374.
Baca Juga
Usai Pengumuman Akuisisi 77,19%, Saham Master Print (PTMR) Lanjut ARA
Lompatan tersebut dipicu rencana Deep Source Pte Ltd, perusahaan asal Singapura, mengakuisisi sebanyak 1,47 miliar unit atau 77,19% saham PTMR. Bahkan, saham PTMR terkena penghentian sementara atau suspensi dipicu lompatan harga hingga auto reject atas (ARA) selama tiga hari.
Penguatan selanjutnya PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM) dengan kenaikan sebanyak 40,71% dari Rp 700 menjadi Rp 985, PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT) naik 40,55 menjadi Rp 5.650, dan PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) melesat sebanyak 37,84% dari Rp 111 menjadi Rp 153.
Kenaikan berikutnya dicatatkan saham BNLI dari Rp 2.500 menjadi Rp 3.260 atau naik 30,40%, SAFE melesat 30,11% dari Rp 186 menjadi Rp 242, KRYA naik 24,43% dari Rp 97 menjadi Rp 123, JATI menguat 24,43% menjadi Rp 163, dan BCIP melesat 21,35% menjadi Rp 108.
Terkait aktivitas perdagangan saham pekan ini, pemodal asing terpantau melepas sebanyak sebanyak Rp 112,61 miliar, dibandingkan pekan sebelumnya Rp 4,51 triliun.
Baca Juga
Terjun 12% Sepekan, Minyak Global Catat Penurunan Mingguan Terdalam sejak 2022
Sedangkan pemicu koreksi indeks pekan ini terseret pelemahan sejumlah saham big cap pekan ini, seperti saham DSSA, BREN, MDKA, ANTM, PTBA, dan BYAN. Sebaliknya saham yang menjadi bantalan indeks dari kejatuhan adalah AMMN, BMRI, TLKM, BNLI, BBRI, dan BRPT.
Penurunan tersebut juga sejalan dengan kejatuhan mayoritas sektor saham, seperti sektor energi turun 4,17%, sektor material dasar turun 1,52%, sektor consumer primer turun 1,40%. Sebaliknya kenaikan tertinggi melanda saham sektor keuangan 1,22%, sektor kesehatan 1,46%, dan sektor consumer non primer 0,48%.

