Saat Kondisi Pasar Tak Pasti, Sejumlah Saham Ini Layak Dilirk
JAKARTA, investortrust.id – Potensi indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih tetap terbuka selama masih bertahan di atas area psikologis 7.000, meski terus tertekan oleh ketegangan geopolitik Iran-Israel, pelemahan rupiah, serta sentimen global yang berhati-hati menjelang keputusan The Fed.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai secara teknikal, IHSG menunjukkan kecenderungan konsolidasi melemah (sideways to bearish), dengan indikator RSI yang mulai turun ke kisaran 47 dan MACD yang mendekati dead-cross, mencerminkan tekanan jual yang meningkat.
Baca Juga
BI Catat Devisa Ekspor SDA Sukses Kumpulkan Rp 373 Triliun dalam 2 Bulan
Dia menilai bahwa volume transaksi yang mulai menyusut juga menunjukkan minat beli jangka pendek mulai meredup. Level support kuat berada di 7.000–6.960, sedangkan resistance jangka pendek berada di kisaran 7.170–7.200.
“Apabila IHSG mampu bertahan di atas support tersebut dan ditopang akumulasi sektor tertentu, potensi rebound masih terbuka. Namun, jika konflik Iran-Israel makin meluas dan rupiah terus melemah melewati Rp 16.400, maka risiko tembus ke bawah 7.000 akan meningkat,” ucap Hendra kepada investortrust.id Rabu, (18/6/2025).
Baca Juga
IHSG Diprediksi Bergerak Mixed, Tiga Saham Ini Layak Dilirik
Hendra menjabarkan, beberapa sentimen positif yang bisa menopang perdagangan saham tetap kuat. Pertama, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,5% menjadi sinyal positif stabilitas moneter. Kedua, arus dana domestik yang masih solid, terutama dari investor ritel dan institusi lokal, menjadi penyangga saat investor asing cenderung wait and see.
“Ketiga, musim pembagian dividen dari sejumlah emiten seperti NCKL, CTBN, dan PGAS memberikan daya tarik bagi investor income-seeking. Keempat, laporan keuangan semester I yang akan dirilis Juli berpotensi mendorong window dressing dan rotasi sektor,” tambah dia.
Saham Pilihan
Namun demikian, Hendra mengimbau, investor tetap perlu selektif. Sektor yang sebaiknya dihindari saat ini adalah transportasi udara dan logistik karena rentan terhadap lonjakan harga minyak serta gangguan rantai pasok akibat geopolitik. Sektor properti mewah dan konstruksi besar juga sensitif terhadap pelemahan rupiah dan tekanan fiskal.
“Demikian pula saham-saham big cap perbankan bisa mengalami tekanan sementara akibat sentimen negatif terhadap rupiah dan ekspektasi yield,” tuturnya.
Baca Juga
Saat Pasar Global Ragukan AS, SBN Malah Diminati Investor Asing
Hendra merekomendasikan sektor energi dan komoditas seperti ANTM dengan target Rp 3.660, ESSA trading buy dengan target Rp 780 dan BRPT dengan target Rp 1.630 tetap potensial, terutama karena naiknya ekspektasi terhadap harga emas, nikel, dan amonia sebagai dampak dari potensi krisis energi.
Saham defensiif di sektor konsumer (ICBP, MYOR, SIDO) serta telko dan tower (TLKM, TOWR) juga menarik untuk akumulasi, karena cenderung tidak terdampak langsung oleh volatilitas global dan tetap mencetak profit stabil. “Saham-saham pembagi dividen besar seperti CTBN dan NCKL juga bisa menjadi penyeimbang risiko dalam portofolio,” pungkasnya.

