Trump Kembali Gaungkan Ancaman Kenaikan Tarif Pasca Inflasi AS Mereda, Simak Dampaknya ke Pasar Kripto
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto mengalami koreksi minor pasca kenaikan data inflasi CPI Amerika Serikat bulan Mei 2025 sebesar 0,1% yang kemudian diiringi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang rencana kenaikan tarif. Menilik data Coinmarketcap, Jumat (13/6/2025) pukul 05.35 WIB, Bitcoin terpantau melemah 2,25% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 105.842, sementara Ethereum turun 4,31% di level US$ 2.642.
Kenaikan Inflasi CPI AS yang lebih rendah dari ekspektasi para ekonom tersebut didorong oleh lonjakan biaya sewa, sementara harga bensin justru turun dan harga pangan naik 0,3%. Secara tahunan, inflasi berada di angka 2,4%, sedangkan inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi berada pada angka 2,8%.
Meskipun saat ini tekanan inflasi masih terbatas, para ekonom memperingatkan bahwa laju inflasi kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan akibat tarif impor baru dari pemerintahan Trump.
Merespon situasi tersebut, Fahmi Almuttaqin, Analyst Reku mengatakan saat ini dampak tarif yang belum terasa penuh banyak diasumsikan sedang terjadi karena banyak peritel disinyalir masih menjual stok lama sebelum tarif berlaku.
“Pemerintah AS sendiri terlihat menekan perusahaan besar untuk menahan kenaikan harga, namun para ekonom memperkirakan efek tarif akan terasa secara bertahap dan mendorong inflasi lebih tinggi ke depannya,” ungkap Fahmi dalam risetnya, dikutip Jumat (13/6/2025).
Baca Juga
Prospek Bitcoin Masih Cerah, Tokocrypto Fokus Genjot Literasi dan Edukasi Kripto
Di tengah kekhawatiran potensi kenaikan inflasi tersebut, Presiden Trump justru kembali menegaskan rencananya untuk menetapkan tarif unilateral bagi para mitra dagang AS dalam satu hingga dua minggu ke depan, menjelang tenggat waktu 9 Juli 2025 untuk memberlakukan kembali tarif lebih tinggi pada puluhan negara.
“Hal ini tentu dapat semakin menekan pasar apabila pernyataan tersebut berkembang lebih serius. Seperti yang hari ini banyak diberitakan, Trump menyatakan akan mengirim surat kepada negara-negara mitra, berisi rincian tarif baru dengan pendekatan “take it or leave it”. Meski begitu, belum jelas apakah Trump benar-benar akan menepati jadwal ini, mengingat sebelumnya beberapa kali mengumumkan tenggat yang akhirnya mundur atau tidak dilaksanakan,” imbuhnya.
Situasi tersebut dapat meningkatkan kewaspadaan investor di tengah tren positif yang ada saat ini serta membatasi dampak positif dari setiap katalis yang ada. “Terlihat bahwa pada hari ini kenaikan harga di pasar kripto cukup terbatas, disaat perkembangan inflasi berada pada tren yang cukup positif. Selain itu, pasar turut mengantisipasi potensi sikap hati-hati The Fed di tengah dinamika ini yang mungkin akan disampaikan pada pertemuan FOMC pekan depan,” kata Fahmi.
Fokus investor yang masih lebih mengarah pada potensi kenaikan inflasi ke depan membuat perkembangan positif yang terjadi saat ini belum terlalu berdampak signifikan. “Namun, lanjut Fahmi, kondisi inflasi yang membaik menghilangkan sentimen bearish yang mungkin dapat berkembang apabila inflasi mengalami kenaikan yang lebih tinggi, terlebih apabila diiringi dengan sentimen kebijakan tarif baru AS yang lebih mengkhawatirkan,” lanjutnya.
Dengan The Fed diperkirakan akan tetap menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan, pasar saat ini memperkirakan kemungkinan penurunan di bulan September jika inflasi tetap terkendali. “Terlepas dari tekanan Presiden Trump terhadap The Fed untuk memangkas suku bunga, risiko kenaikan inflasi akibat efek tarif yang tertunda dan potensi kembali dinaikkannya tarif masih menimbulkan ketidakpastian, terlebih apabila negosiasi dagang AS dengan China belum menghasilkan kesepakatan yang positif hingga Agustus nanti,” imbuh Fahmi.
Sementara itu, Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto menilai, meski terjadi koreksi, posisi Bitcoin saat ini masih berada jauh di atas rata-rata pergerakan kunci. Ini menjadi indikator bahwa kekuatan tren jangka menengah hingga panjang masih terjaga.
Ia menambahkan, investor tetap menunjukkan optimisme dengan terus mengakumulasi BTC, meskipun gagal mempertahankan level psikologis US$ 110.000 atau sekitar Rp 1,78 miliar sebagai support. "Data on-chain menunjukkan arus keluar dari bursa tetap tinggi. Ini menandakan investor lebih memilih menyimpan asetnya dalam jangka panjang, bukan menjual. Tekanan beli inilah yang akan menjadi faktor penting dalam pemulihan harga,” jelas Fyqieh.
Baca Juga
Bitcoin 'Sideways' Meski Data Inflasi AS Positif dan Kesepakatan Perdagangan AS - China Berhasil
Secara teknikal, jika Bitcoin mampu bertahan di atas level support kuat US$ 106.265, maka ada peluang menuju pemulihan ke US$ 110.000. Jika berhasil melewati level ini dan mengonfirmasinya sebagai support, BTC diproyeksikan dapat melanjutkan tren naik menuju level tertinggi sepanjang masa di US$ 111.980.
Namun, risiko penurunan masih ada jika tekanan makroekonomi meningkat. Jika BTC tergelincir di bawah US$ 106.265, harga dapat meluncur ke kisaran US$ 105.000, yang bisa membatalkan proyeksi bullish dalam jangka pendek.
Dari sisi makroekonomi, para pelaku pasar saat ini bertaruh bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini, dimulai dari pertemuan FOMC bulan September. Data dari CME FedWatch menunjukkan peluang sebesar 57% bahwa suku bunga akan turun menjadi kisaran 4%–4,25% pada bulan tersebut.
“Jika penurunan inflasi berlanjut dan The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneternya, ini bisa menjadi katalis tambahan bagi pasar kripto, termasuk Bitcoin, untuk melanjutkan penguatan,” kata Fyqieh.
Sementara itu, tekanan dari pemerintah AS terhadap The Fed juga terus meningkat. Presiden AS, Donald Trump dan Wakil Presiden AS, JD Vance mendesak pemangkasan suku bunga sebesar 100 basis poin untuk meredam beban bunga atas utang negara.
Meskipun BTC belum menunjukkan reli besar dalam jangka pendek, indikator pasar dan dukungan fundamental memberikan harapan kuat bahwa pemulihan akan terjadi, dengan target jangka pendek berada di level US$ 110.000.

