Inflasi AS Mereda, Kripto Bakal Kembali Reli?
JAKARTA, investortrust.id - Data terbaru dari Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat menunjukkan bahwa inflasi turun ke level 2,8% pada Februari 2025, lebih rendah dari ekspektasi 2,9% secara tahunan (YoY). Penurunan ini memberikan kejutan positif bagi pasar, meningkatkan optimisme bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada akhir tahun.
Setelah rilis data CPI, Bitcoin (BTC) merespons dengan kenaikan moderat, melonjak ke US$ 83.371. Penurunan inflasi mengurangi kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga mendukung sentimen risiko di pasar. Selain itu, indeks saham utama AS juga mencatatkan kenaikan, menunjukkan respons positif dari investor terhadap berita ini.
Namun, meskipun inflasi utama turun, inflasi inti (Core CPI) tetap di 3,1% YoY, sedikit di bawah estimasi 3,2%. Inflasi inti tidak mencakup komponen yang lebih volatil seperti makanan dan energi. Ini merupakan penurunan pertama baik dalam CPI utama maupun inti sejak Juli 2024,
mengindikasikan inflasi mulai terkendali.
“Baik secara keseluruhan maupun inti turun. Hal ini jelas meningkatkan ekspektasi untuk penurunan suku bunga. Baik suku bunga maupun nilai tukar dolar/yen merespons dengan penurunan, yang akan berdampak positif pada harga kripto,” kata Analyst Tokocrypto Fyqieh Fachrur dalam siaran pers, Kamis (13/3/2025).
Baca Juga
Bitcoin Disebut Bakal Tembus Rp 329 Triliun Sebelum 2034, Ellen May Tanggapi Prediksi Timothy Ronald
Fyqieh menjelaskan jika inflasi terus mengalami penurunan, The Fed kemungkinan akan mengadopsi kebijakan yang lebih dovish dan membuka peluang lebih besar bagi likuiditas masuk ke pasar. Data dari alat CME FedWatch menunjukkan bahwa investor semakin yakin akan adanya pemotongan suku bunga pada pertemuan Fed mendatang.
“Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi seharusnya mendorong The Fed untuk segera memangkas suku bunga,” jelasnya.
Bitcoin di Persimpangan Siklusnya Bitcoin saat ini berada dalam titik krusial dalam siklusnya. Tidak seperti pola historis pasca halving yang biasanya memicu reli kuat, pergerakan BTC kali ini lebih dipengaruhi oleh faktor makro ekonomi dan keterlibatan institusional.
Menurut Fyqieh, perbandingan siklus Bitcoin sebelumnya (2012-2016 dan 2016-2020) menunjukkan lonjakan harga yang lebih agresif dibandingkan dengan siklus saat ini. Namun, sejak Oktober 2024, harga BTC mengalami kenaikan signifikan, diikuti oleh konsolidasi pada
Januari 2025 dan koreksi pada akhir Februari.
"Berbeda dengan siklus sebelumnya yang lebih didorong oleh spekulasi ritel, Bitcoin kini lebih dipandang sebagai aset investasi yang matang. Pengaruh investor institusional, bank, dan pemerintah telah mengubah dinamika pasar, membuat pergerakan harga BTC lebih stabil
dibandingkan lonjakan ekstrem di masa lalu," ungkapnya.
Baca Juga
Seiring waktu, reli Bitcoin tampaknya semakin melemah. Siklus 2012-2016 dan 2016-2020 menunjukkan kenaikan eksponensial, sementara siklus 2020-2024 dan saat ini lebih moderat. Salah satu indikator utama, rasio MVRV Pemegang Jangka Panjang (LTH), menunjukkan bahwa laba yang belum direalisasi di antara pemegang jangka panjang semakin menurun. Jika tren ini berlanjut, Bitcoin mungkin mengalami siklus yang lebih panjang dan stabil, bukan reli parabola yang eksplosif seperti sebelumnya.
Selain kondisi makroekonomi, faktor politik juga berperan dalam pergerakan harga Bitcoin. Sikap pro-kripto dari mantan Presiden Donald Trump serta meningkatnya adopsi BTC di tingkat negara bagian menambah variabel yang tidak terduga dalam siklus ini.
Fyqieh menjelaskan meskipun pasar tidak bereaksi terlalu antusias terhadap White House Crypto Summit, perkembangan seperti ini menandai langkah besar dalam adopsi Bitcoin oleh pemerintah.
Apakah Bitcoin Sudah Mencapai Puncak?
Saat ini, banyak yang memperdebatkan apakah Bitcoin (BTC) sudah mencapai puncaknya atau masih bisa naik lebih tinggi hingga melewati US$ 100.000. Secara teknikal, BTC baru saja menembus level psikologis US$ 80.000 setelah sebelumnya sempat turun ke titik terendah US$ 76.555
sejak 10 November.
Pergerakan harga terbaru menunjukkan pola segitiga naik, yang bisa memicu lonjakan di atas resistensi US$ 84.000. Saat ini, BTC memang mengalami koreksi setelah menyentuh puncak pola ini, tetapi tren bullish tetap bertahan selama harga tidak jatuh di bawah US$ 81.000 karena jika itu terjadi, tren naik akan batal.
"Bagi yang memilih strategi lebih konservatif, posisi long bisa menunggu konfirmasi penembusan dan menetapkan stop loss di bawah garis resistensi. Level ini akan berubah menjadi support jika BTC benar-benar breakout," analisa Fyqieh.
Target berikutnya untuk BTC ada di US$ 86.750, dengan level stop di bawah US$ 84.000. Namun, untuk benar-benar membalikkan tren bearish, BTC harus mampu menembus US$ 91.000 dalam beberapa hari ke depan. Saat ini, volume perdagangan masih sedikit di bawah rata-rata, yang
menunjukkan bahwa pergerakan naik ini bisa jadi hanya pemulihan jangka pendek.
Menilik data Coinmarketcap, pukul 15.30 WIB harga Bitcoin tengah terpantau naik 0,84% dalam sehari ke posisi US$ 82.772 per koin. Sementara dalam sepekan masih minus 9,52%.

