Ini Pemicu IHSG Lanjutkan Penguatan Dua Pekan Terakhir
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melanjutkan penguatan berturut-turut dalam dua pekan, meski perlambatan ekonomi Indonesia menjadi 4,87% sepanjang kuartal I-2025.
Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup naik sebanyak 16,22 (0,24%) menjadi 6.831,95. IHSG bergerak dalam rentang 6.815-6.879 dengan nilai transaksi Rp 9,41 triliun pada penutupan perdagangan Senin (5/5/2025).
Baca Juga
IHSG Menguat di Tengah Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi, Ini Sebabnya
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menilai, beberapa faktor yang mendukung rally IHSG pada beberapa hari terakhir yakni capital outflow mereda, bahkan investor asing mulai berbalik masuk kembali seiring penguatan nilai tukar rupiah.
"Pasar global juga berada dalam trend positif seiring meredanya gejolak akibat kekhawatiran akan perang tariff dan banyak saham bluechip yang jatuh hingga ke valuasi cukup rendah," ujar Pandhu kepada investortrust.id Senin, (5/5/2025).
Selain itu, Pandhu mengutarakan, sejauh ini laporan kinerja kuartal I-2025 dinilai masih relatif bagus, meski beberapa sektor juga terdapat kontraksi. Tak hanya itu, berbagai kebijakan pemerintah seperti aturan buyback yang lebih leluasa dan batas auto reject bawah lebih dekat membuat pasar lebih tenang.
"Kemudian, banyak fund manajer lokal, seperti BPJS dan taspen yang menyatakan siap menambah portofolio investasi di saham, termasuk Danantara," terang dia.
Baca Juga
Net Buy Pemodal Asing Berlanjut, Sejumlah Saham Bank Ini Diborong
Untuk IHSG mencapai level 7.000, kata Pandhu, tentu peluang terbuka karena tidak terlalu jauh dari posisi sekarang, dan sejauh ini pasar tampak cukup kondusif belum ada tanda-tanda indeks akan balik arah.
"Untuk saham yang jadi pilihan bisa perhatikan beberapa saham yang secara valuasi masih murah, kinerja kuartal I-2025 bagus minimal ada pertumbuhan positif dan secara teknikal berada dalam trend penguatan, seperti saham BMRI, DSNG, INKP, CTRA, dan BIRD. Diversifikasi tetap perlu untuk jaga risiko sambil mencari petunjuk dampak dari penerapan tariff pada ekonomi kedepan," tuturnya.

