Deretan Saham Ini Layak Dicermati saat IHSG Cenderung Naik
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah saham masih menarik untuk dicermati, meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah memasuki pemulihan setelah kembali ke atas level 6.600. Beberapa saham seperti BBCA, BMRI, TLKM, BRIS dan PGAS layak untuk dicermati.
Berdasarkan data BEI, level IHSG saat ini 6.613 sudah berada di atas level IHSG sebelum libur panjang lebaran 6.510. Level tersebut juga telah menunjukkan penguatan pesat sebanyak 10,65% dari level terendahnya pasca memanasnya perang dagang dunia atau setelah Presiden Trump mengumumkan tarif resiprokal. Hal itu menandakan Indonesia sebagai salah satu pasar saham dengan pemulihan tercepat di dunia.
Tak hanya itu, IHSG BEI tercatta sebagai indeks dengan kenaikan paling pesat terhitung kurun waktu 17-23 April 2025 dibandingkan indeks bursa saham Asia. Penguatan IHSG kurun waktu tersebut mencapai 3,05%, dibandingkan Singapura 3,01%, Malayasia 1,21%, Thailand 1,09%, Filipina 0,55%, dan Vietnam stagnan.
Baca Juga
UBS Naikkan Peringkat Pasar Saham Indonesia Menjadi Overweight, Lima Indikator Ini Jadi Dasarnya
Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas Reydi Octa mengatakan, IHSG diprediksi lanjutkan penguatan didorong oleh potensi berkurangnya tensi dagang setelah adanya ruang negosiasi Amerika Serikat (AS) dan China disetai dengan penguatan harga sejumlah komoditas.
"Sentimen penopang penguatan IHSG dalam jangka pendek adalah statement dari Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir untuk menempatkan dana dividen dari BUMN ke pasar saham pada akhir April ini. Begitu juga dengan BPJS ketenagakerjaan yang akan menambahkan portfolionya di bursa saham dengan bobot alokasi mencapai 20% dalam kurun waktu tiga tahun mendatang," kata Reydi kepada investortrust.id Kamis, (24/4/2025).
Pemberitaan ini, terang dia, dapat memicu inflow dana besar ke bursa saham, walau dorongannya belum didominasi partisipasi dari dana asing, karena outflow asing masih terjadi ditandai dengan net sell saham dalam sepekan Rp 9,7 triliun dalam kurun waktu satu minggu terakhir. "Target gabungan IHSG dari rilis analis-analis berbagai sekuritas berada di kisaran 7.700 untuk tahun 2025 ini," ujarnya.
Pulih Tercepat
Dia menambahkan, IHSG mengalami pemulihan yang tergolong cepat dibandingkan indeks bursa utama asia tenggara lainnya, semenjak perekonomian global terganggu oleh statement tarif impor Trump ke negara-negara mitra dagangnya, dibandingkan dengan indeks bursa utama Asia Tenggara lainnya.
Maka masing-masing tercatat, IHSG mengalami kenaikan sebesar 13% di level 6.650 semenjak penurunan terdalam akibat pengumuman tarif impor, Indeks SET Thailand mengalami kenaikan hingga 9,17%, Indeks Kuala Lumpur KLSE naik 8%, Indeks Bursa singapura STI 14% dan Filipina PSEI 5,97%. Bursa kita menjadi lebih menarik di mata investor dengan pemulihan yang lebih cepat, diikuti oleh indeks bursa Singapura.
"Saham-saham yang patut dicermati masih didominasi oleh sektor perbankan dan komoditas, untuk saham perbankan, saham Bank Himbara masih menjadi pilihan utama dikarenakan harga sahamnya yang terkoreksi cukup dalam sehingga memiliki valuasi yang murah jika dibandingkan dengan price earning ratio dalam kurun waktu tiga tahun terakhir," tutur Reydi.
Baca Juga
Reydi juga menilai emiten tambang emas patut dicermati sejalan dengan kenaikan harga emas diiringi penurunan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi global. Hanya saja, tidak semua emiten emas memiliki likuiditas yang tinggi, sehingga investor harus cermat memilih saham terkait emas yang nilai transaksi rata-rata hariannya besar atau likuid, diprediksikan kinerja laporan keuangan saham terkait emas akan membaik pada kuartal I-2025.
"Saham yang terkait batu bara juga mulai terapresiasi harganya, dikarenakan harga acuan batu bara yang dirilis oleh kementrian ESDM untuk periode April ini naik 4,72% yang mencerminkan peningkatan permintaan dan akan berdampak baik pada kinerja saham batu bara," ungkapnya.
Sementara itu, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi berpandangan, penguatan IHSG saat ini didorong oleh beberapa sentiment seperti, valuasi yang cenderung murah dibandingkan regional, tercatat berdasarkan data PE world, PER IHSG di 11,99x (23/4/2025) atau lebih rendah dibandingkan historikal dan regional.
Baca Juga
Saham Bank Melesat Dipimpin BRIS dalam 3 Pekan, Ternyata Target Harga masih Tinggi
"Sentimen lainnya yakni spekulasi pasar terhadap kinerja kuartal I-2025 dan pembagian dividen sepanjang tahun 2024 serta tensi kebijakan tarif Trump yang menurun seiring dengan terbukanya ruang negosiasi," ujar Audi saat dihubungi investortrust.id
Audi berpandangan untuk target jangka pendek hingga menengah untuk pergerakan IHSG dengan target di kuartal II-2025 optimis melaju pada kisaran 6.750-6.800, moderat dikisaran 6.560-6.600 dan pesimis di level 5.700-5.750.
"Adapun saham pilihan untuk jangka panjang yakni buy saham BBCA dengan target harga Rp 11.150 per saham, saham BMRI buy dengan target harga Rp 7.200, saham TLKM buy dengan target harga Rp 3.300, saham BRIS buy dengan target harga Rp 3.190, saham PGAS, trading buy dengan target harga Rp 1.820," paparnya.

