Saham BCA (BBCA) Diganjar Target Ini Usai Rilis Kinerja Kuartal I-2025
JAKARTA, investortrust.id – Keberhasilan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mempertahankan pertumbuhan kuat laba bersih sebanyak 10% menjadi Rp 14,14 triliu pada kuartal I-2025 mendapatkan apresiasi positif banyak analis. Hal ini menjadikan saham BBCA tetap menjadi pilihan teratas dari sektor bank.
Sucor Sekuritas dalam riset pagi ini merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.800. Analis Sucor Sekuritas Edward Lowis mengatakan, saham BBCA tetap menjadi pilihan di tengah keberhasilannya mempertahankan resilensi di tengah kondisi ekonomi penuh tantangan.
Baca Juga
Kredit Tumbuh 12,6% di Kuartal I 2025, BCA (BBCA) Targetkan Pertumbuhan Kredit Tahun Ini Tetap 6%-8%
“Kami juga mempertahankan target pertumbuhan laba bersih BBCA sebanyak 6% menjadi Rp 58,3 triliun tahun ini. Sedangkan sahamnya diharapkan bangkit ke level Rp 11.500,” tulisnya.
Rekomendasi beli saham BBCA juga datang dari analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano. Menurtu dia, realisasi kinerja keuangan perseroan kuartal I-2025 sudah sesuai ekspektasi ditopang pertumbuhan kuat PPOP, sehingga bisa meredam kenaikan biaya provisi.
“Kami mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.900. Saham ini tetap menjadi pilihan teratas untuk sektor bank,” tulisnya.
Baca Juga
Gregory Hendra Lembong Jadi Bos BCA Gantikan Jahja Setiaatmadja per 1 Juni 2025
Sedangkan Mandiri Sekuritas mematok target harga saham BBCA Rp 11.000 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Target tersebut mempertimbangkan keberhasilan perseroan cetak pertumbuhan sesuai ekspektasi kuartal I-2025. Target tersebut juga mempertimbangkan pertumbuhan kredit, simpanan, dan tingkat profitabilitas.
BCA sebelumnya mengumumkan kenaikan laba bersih sebanyak 10% menjadi Rp 14,14 triliun pada kuartal I-2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 12,87 triliun. Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan PPOP sebanyak 10% dari Rp 16,80 triliun menjadi Rp 18,48 triliun. Sedangkan provisi naik dari Rp 886 miliar menjadi Rp 1,03 triliun.

