Dua Sentimen Ini Menjadi Faktor Utama Pendorong IHSG Pekan Ini, Apa Saja?
JAKARTA, investortust.id – PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengimbau investor untuk mencermati beberapa sentimen pasar modal Indonesia pekan ini dalam bertransaksi saham. Dua sentimen utama yang pantas diperhatikan adalah rilis neraca perdagangan Indonesia dan dividen yield.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan mengutarakan, sentimen neraca perdagangan Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Indonesia untuk Maret 2025. Data ini mencerminkan selisih antara ekspor dan impor sehingga sering dijadikan indikator awal kondisi ekonomi dan kinerja sektor riil.
Baca Juga
Bank Indonesia (BI) dalam rilis hari ini mengumumkan posisi cadangan devisa (cadev) akhir Maret 2025 menembus US$ 157,1 miliar, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Berdasarkan data Bank Sentral, angka tersebut meningkat Rp 2,6 miliar (1,68%) dibanding akhir Februari lalu US$ 154,5 miliar.
"Surplus neraca perdagangan yang lebih besar dari ekspektasi bisa jadi sentimen positif untuk pasar saham, terutama sektor komoditas, seperti CPO, batu bara, dan logam. Sementara itu, defisit atau surplus yang lebih kecil bisa menekan nilai tukar Rupiah dan memicu kekhawatiran investor yang berpotensi menimbulkan aksi jual terutama dari investor asing," tulis David dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/4/2025).
Terkait dividend yield yang tinggi dari sektor perbankan memberikan daya tarik tersendiri di tengah pasar yang fluktuatif. Namun, potensi aksi jual setelah cum date serta tekanan global bisa memicu pergerakan harga yang kurang stabil.
Saham Pilihan
"Strategi jangka menengah dan analisis fundamental tetap krusial. Contoh seperti BBNI akan cum date 14 April dan ex date 15 April dengan estimasi dividend yield 8-9%," ujarnya.
Berkaca pada sentimen di atas, PT Indo Premier Sekuritas merekomendasikan beli (buy) saham BBNI dengan target Harga Rp 4.780 "Ppekan ini, BBNI akan mendekati tanggal cum date & ex date. Potensi keuntungan dividen yang didapatkan setara dengan yield 8-9%. Tentu saja yield ini lebih tinggi dari bunga deposito ataupun rata-rata SBN," ujarnya.
Baca Juga
Empat Emiten Ini Gelar Cum Dividen Hari Ini, Lepas atau Beli Sahamnya?
Selain BBNI, David merekomendasikan buy on breakout HRTA dengan target harga Rp 630. Saat ini harga acuan HRTA sudah menyentuh area all time.
"Emiten-emiten seperti HRTA yang bergerak di bidang emas, lebih tepatnya perhiasan, tentunya akan diuntungkan dengan kondisi saat ini. Jika harga acuan emas bertahan lama, ada potensi pendapatan HRTA di tahun 2025 ini akan naik cukup signifikan," ungkapnya.
Baca Juga
IHSG Ditutup Melesat 106 Poin Terdorong Sejumlah Saham Big Cap Ini
Terakhir, David juga merekomendasikan Buy INKP dengan target harga Rp 5.525. Terkerek laba bersih, menurut David emiten ini layak buy. Di mana laba bersih PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) mencapai US$ 424,3 juta atau surplus 3,12% dari episode sama tahun sebelumnya US$ 411,46 juta.
"Secara teknikal, saat ini INKP membentuk pattern intensity di area support dan jika berhasil breakout cukup menarik untuk jangka pendek," tuturnya.

