Rampungkan Proyek Angkutan Batu Bara, Bukit Asam (PTBA) Anggarkan Capex Rp 7,2 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merancang anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 7,2 triliun pada 2025, yang sebagian dialokasikan untuk merampungkan proyek angkutan batu bara.
“Capex untuk ekspansi tahun 2025 kurang lebih Rp 2,7 triliun,” ujar Direktur Utama Bukit Asam Arsal Ismail pada paparan publik perseroan di The Westin, Kuningan, Jakarta, Senin (14/4/2025).
Jumlah capex tersebut, terhitung naik 206% (year on year) atau tiga kali lipat dari realisasi capex tahun lalu yang sebesar Rp 2,35 triliun. Besaran capex pada 2024 yang mengalami peningkatan 17% (yoy) itu, juga utamanya dialokasikan untuk pengembangan angkutan batu bara Tanjung Enim - Kramasan.
PTBA telah memulai pembangunan fasilitas penanganan batu bara (coal handling facility) baru untuk meningkatkan kapasitas angkutan batu bara melalui jalur kereta api relasi Tanjung Enim-Keramasan. Proyek ini telah ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) di Tanjung Enim pada 30 Desember 2023.
Fasilitas angkutan berkapasitas 20 juta ton per tahun itu merupakan bagian dari kerja sama PTBA dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Manajemen menjelaskan, sarana dan prasarana untuk moda transportasi angkutan kereta disiapkan oleh PT KAI, sementara fasilitas dermaga di Keramasan dibangun PT Kereta Api Logistik (Kalog).
Untuk mendukung kegiatan bongkar muat batu bara di Terminal Kramasan, KAI Logistik memastikan kesiapan dan keandalan infrastruktur. Termasuk Train Unloading System dengan kapasitas mencapai 3.000 ton per jam per TULS, dengan luas area stockpile maksimal berkapasitas 480.000 ton.
Baca Juga
AS Beralih ke Batu Bara, Indonesia Targetkan Punya Pembangkit Panas Bumi Terbesar Dunia
Lebih lanjut, Terminal Bongkar Batu Bara Kramasan juga mampu melayani 20 kereta api dengan rangkaian 60 gerbong batu bara setiap harinya.
Sementara pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI kemarin, pihak PTBA menargetkan proyek tersebut rampung pada kuartal III-2026.
Arsal pun menjelaskan, sumber capex tahun ini akan dirancang menggunakan porsi 20% kas internal dan 80% pinjaman atau dengan porsi 25% banding 75% dan 30% banding 70%.
“Sumbernya dari mana? Yang jelas kami sudah menyiapkan ada dari kas internal dan juga ada dari eksternal. Dari kas internal ini tentunya nanti pastikan dahulu berapa dividend payout ratio yang menunggu keputusan pemegang saham (termasuk pemerintah),” sambungnya.
Dia juga mengingatkan perbandingan jumlah utang dengan jumlah ekuitas (debt to equity ratio/DER) perseroan masih di level 0,6. Sehingga perusahaan masih memiliki ruang bila ingin menambah pinjaman untuk capex proyek angkutan batu bara tersebut.

