Prediksi Analis yang Optimis dan Pesimis tentang IHSG Hari Ini
JAKARTA, investotrst.id – Pasca-libur Lebaran 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah akibat sejumlah sentimen negatif. Namun, pelemahan diharapkan tidak terlalu tajam, setelah pasar saham di regional selama tiga hari berturut-turut anjlok menyusul pemberlakuan tarif resiprokal oleh Presiden Donald Trump pada Rabu (2/4/2025) waktu AS atau Kamis pagi WIB (3/4/2025).
Bursa saham Indonesia ‘diselamatkan” oleh tiga hari libur (3-7 April). Pada hari pertama pasca-Lebaran, Selasa (8/4/2025) ini, perdagangan di BEI masih akan dibayangi berbagai sentimen negatif.
Head of Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi Kasmarandana menyebutkan, depresiasi rupiah diduga kembali berlanjut, yang sebelumnya sempat menyentuh level Rp 16.740 per USD. Depresiasi ini akan menambah sentimen negatif di pasar saham.
Pengenaan tarif impor sebesar 32% oleh AS terhadap produk ekspor Indonesia masih menjadi sentimen negatif utama. Surplus perdagangan bakal menyusut, bersumber dari penurunan produk utama ke AS seperti tekstil dan produk tekstil (TPT) serta manufaktur lain seperti alas kaki.
Surplus perdagangan nonmigas terbesar yang dinikmati Indonesia selama ini adalah dengan Amerika Serikat, yang mencapai US$ 16,84 miliar tahun 2024 atau mencakup 54% dari surplus Indonesia sepanjang 2024. “Surplus perdagangan Indonesia terhadap AS tahun lalu itu sudah turun 18,84% (yoy) menjadi US$ 31,04 miliar, menjadi surplus terendah dalam empat tahun terakhir,” kata Audi.
Bahaya lain dari efek penaikan tarif impor ke mitra dagang adalah banjirnya ekspor produk ke Indonesia, dari negara-negara yang terkena tarif tinggi seperti China, Vietnam, dan Bangladesh.
Selain itu, penantian rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) pada 10 April mendatang diperkirakan ikut menarik turun IHSG adalah. “Inflasi yang tinggi di AS akan membuat The Fed menahan kebijakan suku bunga, termasuk BI rate, sehingga cost of fund tetap tinggi,” ucap Audi kepada investortrust.id, Senin (7/4/2025).
Sebelumnya, Fed telah merevisi target inflasi AS ke level 2,7% (yoy) atau lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 2,5% (yoy). Inflasi inti Februari tercatat masih 2,8%. Hal ini memicu spekulasi pasar akan perlambatan ekonomi global.
Atas dasar faktor-faktor tersebut, Audi memperkirakan IHSG melemah ke level support 6.150 dan resistance 6.660, meski tren jangka pendek menunjukkan penguatan tren sebelum libur bursa. Bahkan, jika IHSG breakdown psikologis support, Audi melihat skenario bearish hingga level 5.700-5.750. “Tekanan asing juga berpotensi berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi,“ kata Audi.
Adapun analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana alias Didit memperkirakan support terdekat 6.312 dan resisten 6.557 pada pembukaan perdagangan Selasa ini karena sentimen negatif pasar regional yang merah menyusul genderang perang tarif global oleh AS.
Secara terpisah, Founder Stocknow.id, Hendra Wardana berpendapat, tekanan terhadap IHSG diperkirakan cukup signifikan pada pembukaan perdagangan hari ini. "Saya memperkirakan IHSG berpotensi melemah ke area support di 6.290–6.312, dengan resistance jangka pendek di 6.660. Meskipun sebelumnya ada kecenderungan penguatan menjelang libur bursa, sentimen negatif dari kebijakan Trump akan menjadi penahan utama laju penguatan tersebut," ucap Hendra kepada investortrust.id Senin, (7/4/2025).
Baca Juga
Wall Street Masih Terguncang Tarif Trump, Dow Jones Anjlok Lebih dari 300 Poin
Sedangkan pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan IHSG di BEI turun 2-3% saat pembukaan perdagangan hari ini, sebagai respons terhadap penaikan tarif resiprokal oleh AS yang bakal memicu ketidakpastian di pasar global. Mata uang rupiah juga akan tertekan.
Untuk itu, BEI beserta Self Regulatory Organizatio (SRO) harus berhati-hati melakukan pengawasan secara jeli tentang perang dagang yang berdampak negatif terhadap IHSG. Apalagi sebelumnya Morgan Stanley telah menurunkan peringkat saham MSCI Indonesia dari equal weight menjadi underweight dengan alasan return on equity di bursa domestik menurun.
Tetap Optimis
Meski demikian, sejumlah analis tetap optimis IHSG tidak akan turun terlalu dalam seperti dialami bursa regional. Optimisme disampaikan oleh Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe. Dia memperkirakan, dampak penaikan tarif impor oleh AS terhadap produk ekspor Indonesia tidak akan terlalu besar terhadap pelemahan IHSG. Dia melihat, di periode sebelum-sebelumnya, rontoknya IHSG kebanyakan bersumber dari sentimen negatif di dalam negeri.
Kiswoyo berkeyakinan sentimen domestik yang menunjukkan titik terang mampu menahan penurunan indeks atau bahkan menaikkannya. Sentimen dimaksud adalah isu negatif pembentukan Danantara yang akhirnya memberi kejelasan, seperti penetapan jajaran pengurus yang dinilai cukup profesional. Kiswoyo berharap, Danantara segera membeli saham seperti BBRI, BMRI, dan TLKM setelah mendulang dividen dari sejumlah BUMN.
“Apalagi harganya sedang murah. Sehingga nanti bisa menunjukkan ke masyarakat bahwa Danantara sudah bisa untung loh,” tambah dia.
Selain itu, pasar saham juga menanti penempatan dana BPJS Ketenagakerjaan yang diharap meningkat dari kisaran 6% menjadi setidaknya 10%. Mengutip data BPJS Ketenagakerjaan, jumlah dana kelolaannya (asset under management/AUM) September 2024 mencapai Rp 776,8 triliun.
Dengan begitu, bila 10% saja AUM BPJS Ketenagakerjaan dipakai untuk mengakumulasi saham seperti BBRI, BMRI, hingga TLKM maka akan menciptakan arus masuk sekitar Rp 7 triliun ke pasar saham. Saham-saham berkapitalisasi pasar besar yang dibeli BPJS pun dapat mendongkrak IHSG.
Berdasarkan perhitungan-perhitungan tersebut, Kiswoyo memperkirakan IHSG dapat bergerak di kisaran 6.250-6.750 hingga akhir April 2025. Sedangkan pada akhir tahun ini, dia menilai, bukan tidak mungkin IHSG mampu terdongkrak ke level 7.250 dengan perbaikan sejumlah sentimen domestik.
Analis Pasar Modal Hans Kwee menyatakan, pemerintah sebaiknya segera bernegosiasi agar Amerika Serikat bersedia merevisi tarif impor produk Indonesia. Dengan demikian, tekanan terhadap IHSG tidak akan berlarut-larut.
Saham-Saham yang Terdampak
Hendra menegaskan, potensi menyusutnya surplus perdagangan akibat tarif impor 32% terhadap produk Indonesia bakal menekan nilai tukar rupiah dan neraca pembayaran Indonesia.
Hendra Wardana menyebutkan, emiten seperti SRIL, RALS, MYOR, UNTR, SMSM, hingga IMAS dan GJTL termasuk yang patut dicermati karena sebagian besar pendapatannya bergantung pada ekspor langsung maupun rantai pasok global. Salah satu sektor yang paling terdampak namun sering luput dari perhatian adalah sektor karet dan turunannya.
"Emiten seperti Gajah Tunggal Tbk (GJTL), yang memiliki eksposur besar ke ekspor ban dan produk karet ke AS, berisiko tinggi mengalami penurunan volume penjualan akibat tarif baru. Produk-produk GJTL akan menjadi lebih mahal di pasar AS dan kemungkinan besar konsumen akan beralih ke produsen dari negara lain yang tidak dikenakan tarif tinggi. Akibatnya, pendapatan dan laba GJTL bisa tertekan," tuturnya.
Menurutnya industri hulu seperti perkebunan karet juga tidak luput dari dampak ini, karena harga karet alam global sangat dipengaruhi oleh permintaan dari negara-negara besar. Jika permintaan turun, harga karet berisiko melemah, yang akan berdampak buruk bagi petani dan pabrik pengolahan.
Baca Juga
IHSG Diprediksi Bergerak Bearish di Hari Perdana Transaksi Usai Libur Lebaran

