Asumsi Makro untuk Nilai Tukar Rupiah Buat Pasar Pesimis?
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Direktur Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Eko Listiyanto mengatakan penetapan asumsi makro untuk nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bersifat pesimis. Pasalnya asumsi makro nilai tukar akan terbantu karena optimisme pasar terhadap penurunan suku bunga bank sentral AS, the Fed.
“Kalau menargetkan Rp 16.100 (per US$) nggak make sense menurut saya. Oke, kalau kita nggak melakukan apa-apa Rp 16.000 tembus juga. Tapi harusnya kita punya Bank Indonesia (BI) yang menjaga rupiah,” kata Eko kepada investortrust.id, beberapa waktu lalu.
Eko mengatakan, BI telah melakukan usaha ekstra agar rupiah tak tembus Rp 16.000 per US$. Ini karena sinyal penurunan Fed Fund Rate (FFR).
“Rupiah kita juga menguat ‘gara-gara’ itu. Tahun depan berarti ada tren bunga tidak lagi higher for longer, harusnya itu tercermin dari asumsi makro. Kalau Rp 16.100 (per US$) tidak mencerminkan itu,” kata dia.
Sementara itu, peneliti senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan menyebut penetapan asumsi nilai tukar rupiah di level Rp 16.100 per US$ bersifat aman. Dia menyebut penetapan ini karena kondisi perekonomian ke depan yang akan diwarnai defisit neraca pembayaran.
Baca Juga
“Kalau kita lihat defisit fiskal dan defisit neraca pembayaran itu juga (pengaruh). Jadi kan, twin deficit kita itu besar. Dan defisit neraca pembayaran itu juga salah satunya yang mengakibatkan rupiah melemah. Jadi menurut saya (penetapan nilai tukar itu) antisipasi terhadap defisit pembayaran yang akan membesar,” kata Deni, ditemui di auditorium CSIS, Jakarta, Senin (19/9/2024).
Selain itu, kata Deni, penetapan nilai tukar juga memperhitungkan pembayaran utang. “Jadi menurut saya masih oke sih Rp 16.100 (per US$) itu,” kata dia.
Pengaruh SBN
Deni juga melihat penetapan itu karena melihat “pemborong” Surat Berharga Negara (SBN) belakangan adalah Bank Indonesia. Dengan BI sebagai pemain utama dalam pembelian SBN, suplai rupiah di pasar bertambah.
“Harga rupiah pasti turun. Karena nambah gitu,” ucap dia.
Baca Juga
Ini Alasan Pemerintah Usulkan Asumsi Rupiah Rp 15.300-15.900/USD
Sementara itu, Eko juga melihat penetapan asumsi makro untuk suku bunga SBN 10 tahun sebesar 7,1% sebagai tingkat suku bunga yang relatif aman.
Meski begitu disebutnya kondisi ini akan membuat disinsentif bagi pertumbuhan perekonomian, dengan asumsi bahwa pemerintah akan mengguyur pasar dengan penerbitan SBN.
“Apa yang akan dilakukan? Bank-bank itu akan mengeluarkan kredit secara moderat. Ngapain ditaruh di sektor riil? Tahun depan pemerintah akan menebar SUN, apalagi SUN 7%, tunggu saja kapan mulai lelangnya,” ujar dia.

