Dua Faktor Ini Topang Lompatan IHSG 3,80%, Peluang Kenaikan ke Level 6.600 makin Terbuka?
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak signifikan sebesar 3,80% ke level 6.472,36 setelah saham bank besar melesat. Lompatan tersebut diikutipembelian bersih (net buy) saham oleh pemodal asing Rp 2,57 triliun. Penguatan tersebut memerkuat peluang enaikan indeks ke resistance selanjutnya MA 50 level 6.670.
Berdasarkan data perdagangan BEI, faktor utama penopang kenaikan tersebut berasal dari kenaikan saham BMRI sebanyak 8,65%, BBNI 8,97%, BBRI 5,26% dan BBCA 5,90%. Penguatan juga didukung kenaikan saham emiten Prajogo berkapitalisasi pasar besar, yaitu BREN dan TPIA lebih dari 5%.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai kenaikan ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor terutama dua hal ini. Pertama,aksi buyback saham dan pembagian dividen jumbo oleh bank-bank Himbara. Kedua, kejelasan struktur kepengurusan sovereign wealth fund (SWF) Danantara yang meredakan ketidakpastian pasar.
Baca Juga
Belum Tiga Bulan Masuk Bursa, Bangun Kosambi (CBDK) sudah Siapkan Buyback Rp 1 Triliun
“Selain itu, aksi buyback saham yang akan dilakukan oleh BBRI sebesar Rp 3 triliun dan BMRI Rp 1,17 triliun menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap valuasi saham mereka yang dinilai masih undervalued,” ujar Hendra kepada investortrust.id Rabu, (26/3/2025).
Selain itu, pembagian dividen besar, seperti BBRI yang menebar Rp 51,73 triliun atau 86,02% dari laba bersih, serta BMRI yang mengalokasikan Rp 43,5 triliun atau 78% dari laba bersih menjadi daya tarik utama bagi investor yang mencari imbal hasil menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Angin Segar Danantara
Selain sentimen dari sektor perbankan, pasar mendapat angin segar dari pengumuman susunan kepengurusan Danantara yang dinilai profesional dan berbasis meritokrasi. Dengan total aset kelolaan mencapai US$ 900 miliar, SWF ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi ekonomi nasional tanpa intervensi politik yang berlebihan.
Kejelasan struktur Danantara menjadi faktor kunci yang meredakan kekhawatiran pasar, mengingat sebelumnya IHSG sempat terkoreksi sekitar 22% dari puncaknya pada Oktober 2024 akibat capital outflow asing sebesar US$1,64 miliar.
Baca Juga
Asing Tiba-tiba Net Buy Rp 2,57 Triliun, Borong Saham BMRI, BBCA, BBRI, hingga BBNI
“Penunjukan lebih dari 40 direktur dan manajer senior dengan latar belakang profesional global, mayoritas berpengalaman di sektor keuangan dan investasi, memberikan sinyal bahwa pemerintah mengadopsi pendekatan pragmatis dalam mengelola ekonomi,” imbuhnya.
Hal ini kata Hendra, juga mencerminkan respons terhadap kondisi pasar yang sebelumnya skeptis terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan baru.
Sementara dari sisi teknikal, IHSG berhasil breakout resistance MA20 di 6.455, membuka peluang penguatan lebih lanjut menuju MA50 di 6.673 hingga resistance 6.707, dengan support terdekat di kisaran 6.246-6.355.
Lonjakan volume perdagangan mengindikasikan adanya partisipasi pasar yang luas dalam reli ini. Jika momentum terus berlanjut, IHSG berpotensi mendekati level 6700, yang sebelumnya menjadi resistance kuat.
Baca Juga
Sri Mulyani Ungkap Danantara Bisa Kolaborasi dengan New Development Bank
“Namun investor diminta untuk tetap mencermati potensi aksi profit-taking dalam beberapa hari ke depan, mengingat kenaikan yang sudah signifikan dalam dua hari terakhir,” ucapnya.
Selain itu, menurut Hendra momentum saat ini memberikan peluang bagi investor untuk mulai mengakumulasi saham sebelum IHSG berpotensi melanjutkan penguatan. Saham-saham perbankan, terutama yang melakukan buyback seperti BBRI dan BMRI, masih menjadi favorit di tengah tingginya dividen yield yang mereka tawarkan.
“Namun, investor tetap perlu mewaspadai faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga The Fed, fluktuasi harga komoditas, dan ketegangan geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen pasar ke depan. Oleh karena itu, strategi akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat tetap menjadi pilihan bijak dalam menghadapi dinamika pasar saat ini,” tuturnya.
Baca Juga
Saham Bank BUMN Melesat! Intip Target Harga BMRI, BBRI, BBNI hingga BBCA Ini
Hal serupa juga dikatakan Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana alias Didit. Ia mengungkapkan penguatan akan saham perbankan masih dipengaruhi oleh RUPS dan adanya katalis dari dividen.
“Disisi lain kami mencermati adanya inflow asing pada IHSG kemarin sebesar Rp 214 miliar yang diperkirakan masuk ke emiten-emiten perbankan tersebut. Secara teknikal, kami mencermati emiten perbankan akan bullish dalam jangka pendek terlebih dahulu,” ucapnya saat dihubungi investortrust.id Rabu, (26/3/2025).

