PGN (PGAS) Bukukan Kenaikan Laba Atribusi Entitas Induk 22%, Penopangnya Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 22% menjadi US$ 339,42 juta pada 2024, dibandingkan periode sama tahun lalu senilai US$ 278,09 juta.
Subholding Gas PT Pertamina (Persero) ini menyebutkan dalam rilis laporan kinerja keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (26/3/2025), bahwa pertumbuhan tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan perseroan dari US$ 3,64 miliar menjadi US$ 3,78 miliar pada 2024. Sebaliknya laba operasional perseron justru turun dari US$ 542,41 juta menjadi US$ 522,65 juta.
Baca Juga
Bisnis Baru dan Buyback Obligasi Dongkrak Kinerja PGN (PGAS), Capex Rp 5 Triliun
Kenaikan laba emiten portofolio investor kawakan, Lo Kheng Hong, ini juga didukung atas peningkatan laba dari ventura bersama dari US$ 64,83 juta menjadi US$ 72,20 juta, pendapatan keuangan naik dari US$ 48,46 juta menjadi US$ 60,18 juta, penurunan beban keuangan dari US$ 97,62 juta menjadi US$ 75,32 juta, dan tidak adanya provisi atas sengketa pajak seperti tahun 2023 mencapai US$ 29,86 juta.
Berbagai faktor tersebut memicu lompatan laba tahun berjalan PGAS dari US$ 376,61 juta menjadi US$ 439,63 juta. Laba tersebut terdiri atas entitas induk US$ 339,42 juta dan kepentingan nonpengendali sebanyak US$ 100,20 juta.
Sebelumnya, Direktur Utama PGN Arief Setiawan Handoko sebelumnya mengatakan, PGN telah melakukan buyback obligasi pada harga di bawah par atau lebih rendah dari nominal. Aksi ini diharapkan bisa mengurangi beban bunga tahun 2025, sehingga laba bisa lanjutkan pertumbuhan.
Baca Juga
Fokus di Jawa dan Sumatera, PGN (PGAS) Targetkan 1 Juta Sambungan Jargas
Selain itu, dia mengatakan, optimisme terhadap pertumbuhan kinerja keungan perseroan ditopang atas pengembangan bisnis baru. Perusahaan transmisi dan distribusi gas bumi terbesar di Indonesia ini tercatat sudah menjual Liquefied Natural Gas (LNG) kepada buyer internasional untuk pertama kalinya.
Tahun 2025, perseroanmenyiapkan belanja modal (capex) US$ 338 juta untuk proyek infrastruktur strategis. Investasi ini menggambarkan optimisme bisnis gas bumi ke depan, lantaran lebih murah dari energi fosil yang lain dan ramah lingkungan dengan emisi CO2 lebih rendah. Cadangan gas bumi di Indonesia juga masih besar sehingga tepat menjadi energi transisi menuju energi bersih.
Berdasarkan data, saham PGAS tercatat sebagai salah satu portofolio andalan Lo Kheng Hong. Investor kawakan tersebut menggenggam sebanyak 257.696.100 (1,06%) saham PGAS hingga menjadikan dirinya sebagai pemegang saham PGAS nomor 6 terbanyak per 31 Oktober 2024.

