Meski IHSG Anjlok 9,68% Ytd, Pacific Capital Investment Nilai Pasar masih Bisa Bangkit Tahun Ini
JAKARTA, investortrust.id - Head of Investment PT Pacific Capital Investment David Manurung menilai indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih memiliki kesempatan untuk bangkit tahun 2025, meskipun beberapa hari lalu IHSG dilanda penurunan tajam.
Berdasarkan data BEI, IHSG telah melemah sebanyak 9,68% sejak awal tahun hingga 20 Maret atau year to date (ytd). Pelemahan IHSG tercatat terbesar kedua di Kawasan Asia Pacifik.
Menurut dia, penurunan IHSG kemarin hanyalah sentimen sesaat. Sebab, pasar saham Indonesia masih cukup kuat dan bisa menarik perhatian para investor, mengingat pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir berada di kisaran angka 5%.
Baca Juga
Bank Mandiri Borong Penghargaan “Most Trusted Financial Brands Awards 2025”
“Kalau saya pribadi berpendapat Indonesia masih cukup kuat. Kemarin itu ya mungkin hanya sentimen sesaat. Harusnya punya opportunity ke depan untuk bangkit lagi,” kata David saat ditemui di acara Most Trusted Financial Brand Awards 2025 yang diselenggarakan Investortrust.id bersama Infovesta di Jakarta, Kamis (20/3/2025).
Dalam acara Most Trusted Financial Brand Awards 2025 tersebut, PT Pacific Capital Investment menjadi salah satu pemenang, yakni untuk kategori Manajer Investasi Reksa Dana Campuran. Penghargaan ini pun disebut David sangat berarti bagi, utamanya untuk terus mendapat kepercayaan investor.
“Kami dari pelaku pasar sangat mengapresiasi, mengingat akhir-akhir ini pasar sudah turun jauh dan acara ini membuktikan bahwa kami sebagai pelaku pasar sudah melakukan fungsinya dengan proper dan kami berharap terus mendapat kepercayaan dari pasar dan investor,” ujar dia.
Baca Juga
Most Trusted Financial Brands Awards 2025 Jadi Semangat Bangun Kepercayaan Publik
Lebih lanjut, David mengatakan, pemerintah sebetulnya sudah cukup baik dalam mendukung pasar. Namun, menurutnya yang paling penting pemerintah mesti bisa memanage kebijakan dan isu-isu dengan baik untuk menjaga stabilitas.
“Seperti kemarin kan contohnya kayak isu dari mundurnya Sri Mulyani kan, toh langsung diklarifikasi, sehingga pasar naik kembali. Kemampuan untuk memanage itu diperlukan, memanage isu lah,” ucap David.

