Saham PGAS Menguat Didorong Sentimen Pasar, Begini Target Harga Terbarunya
JAKARTA, investortrust.id – Palaku pasar saham menyambut suka cita pemilihan umum (Pemilu) 2024 yang berlangsung aman dan sukses, tercermin dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan, Kamis (15/02/2024).
Berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, pasangan Prabowo – Gibran meraih 58% suara pemilih, artinya Pemilu hanya berlangsung satu putaran. Saat ini IHSG tercatat menguat 1,64% ke level 7.333.
Penguatan IHSG didorong oleh akumulasi pelaku pasar terhadap sejumlah saham-saham papan atas maupun lapis kedua. Termasuk saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang menguat 1,74% ke level Rp 1.170 per saham.
Analis PT Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan, selain sentimen positif pasar, penguatan saham PGAS didukung oleh target Perseroan yang akan meningkatkan kinerja operasional seperti penjualan gas, transmisi gas, hingga regasifikasi.
Baca Juga
“Selain itu, berbagai proyek penunjang seperti peningkatan cakupan jaringan gas, revitalisasi LNG Arun, hingga pengembangan biometana menjadi fokus Perseroan di tahun ini,” ulas dia dalam riset yang diterbitkan, Kamis (15/02/2024).
“Sejalan dengan hal ini, kami merekomendasikan hold dengan target harga di Rp1.200 (implied EV/EBITDA: 2,8 kali di 2024F) menggunakan valuasi -1,5 kali EV/EBITDA 5 tahun,” ulasnya. Target harga terbaru ini turun dari target harga sebelumnya Rp 1.900 per saham.
Meski begitu, dia mengingatkan risiko penurunan harga saham, terutama bila belum adanya evaluasi HGBT dan masalah sengketa Perseroan dengan Gunvor.
Patut diketahui Perseroan menyatakan kondisi force majeur terkait kontrak penjualan LNG dengan Gunvor Singapore Ltd seiring tertundanya novasi portofolio LNG dari Pertamina ke PGAS.
Perseroan harus menemukan suplai LNG lainnya untuk memenuhi kontrak dengan Gunvor sebanyak 8 kargo setiap tahunnya. Namun hal tersebut memiliki tantangan dari segi harga pembelian dari penjual yang harus menguntungkan Perseroan.
Baca Juga
“Kami menilai Perseroan berpeluang meningkatkan provisi pada kontrak tersebut sebesar US$ 61,3 juta hingga September 2023.
Terkait penyaluran HGBT (Harga Gas Bumi Tertentu) senilai US$ 6/MMBTU untuk 7 sektor industri khusus seperti industri pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet merupakan pemberat bagi PGAS.
“Namun, kami menilai jika hal tersebut cukup menantang karena hal tersebut dipandang bagi pemerintah dapat menurunkan daya saing industri terkait serta prinsip pemerintah ingin menjadikan harga gas semurah mungkin,” kata Felix.
Di sisi lain, pemerintah melalui SKK Migas membantu Perseroan dalam mengatur suplai gas untuk Perseroan dengan harga yang kompetitif seperti saat perpanjangan kontrak jual-beli gas Perseroan dengan Medco Energy (MEDC) dari Blok Corridor sekitar 410 BBTUD selama 5 tahun.
Sementara terkait ekspansi, melalui PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) bersama dengan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS), Perseroan melanjutkan pengembangan biomethane yang berasal dari limbah kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent atau POME) setelah penandatangan MoU pada 2022 lalu.
Latar belakang Perseroan untuk pengembangan tersebut adalah untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan untuk mencapai target Net Zero Emission di 2060. Selain juga karakter Bio CNG mendekati gas bumi sehingga adanya opsi tukar jenis komoditas tersebut dalam penyaluran melalui infrastruktur yang dimiliki Perseroan.
Dengan pemanfaatan POME sebagai bahan baku Bio CNG, Perseroan menilai jika wilayah Sumatera dan Kalimantan menjadi sasaran utama pasokan gas. Aksi korporasi ini dinilai bisa menjadi sumber pendapatan Perseroan di masa datang.

