Bos BI Ungkap Pemicu Pelemahan IHSG Awal Pekan hingga Prospek Menggiurkan Ini ke Depan
JAKARTA, investortrust.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan bahwa pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa bulan terakhir dipicu ketidakpastian global.
IHSG pada peradgangan Selasa (18/3/2025), sempat anjlok hingga sentuh penurunan sebanyak 7,11% ke level 6.011 pada pada sesi I. Bahkan, perdagangan saham harus terkena penghentian sementara (trading halt) selama 30 menit.
Menurut Perry, merosotnya IHSG tidak lepas dari ketidakpastian yang melanda pasar keuangan global. Saat ini, tengah terjadi tren perubahan terhadap portofolio investasi global.
Baca Juga
IHSG Anjlok, Luhut Sebut Prabowo Bakal Bertemu dengan Pelaku Pasar
"Dulu hampir semua portfolio investasi, apakah saham, obligasi, maupun produk keuangan dipilih investor dari Amerika Serikat," kata Perry dalam konferensi pers rapat dewan gubernur (RDG) di kantor BI, Jakarta, Rabu (19/3/2025).
Kini, terang Perry, terjadi pergeseran portofolio investasi global. Para investor cenderung memilih emas sebagai aset yang lebih safe-haven. Selain itu ada pergeseran investasi global yang sebelumnya ramai memilih pasar Amerika Serikat (AS) kini memilih obligasii di emerging market.
Dia mleanjutkan, pelemahan pasar saham tak hanya melanda Indonesia, saham-saham yang di AS dan negara-negara regional tengah terkoreksi atau mengalami penurunan harga. Hal tersebut membuat para investor mengalihkan portofolio menuju negara-negara maju selain AS. "Itulah bacaan-bacaan yang kami lakukan dari sisi global," sambungnya.
Baca Juga
Bos BI itu pun turut mengirimkan sinyal positif kepada para investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Perry meyakinkan investor untuk tetap mempercayakan portofolio investasi kepada instrumen aset keuangan Indonesia, baik itu saham, SBN serta SRBI.
Tetap Menarik
Aset keuangan Indonesia masih tetap menarik didukung fundamental ekonomi nasional. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap tinggi berkisar 4,7-5,2%. Aset keuangan Indonesia juga memberikan imbal hasil yang kompetitif, dibandingkan dengan negara-negara emerging lainnya.
"Investor asing bisa menghitung berapa yield differential ke SBN maupun SRBI yang lebih tinggi dari yield differential dari sejumlah negara-negara kawasan, termasuk India," jelasnya.
Baca Juga
OJK Optimistis Banyak Emiten Manfaatkan Peluang ‘Buyback’ Tanpa RUPS
Selain itu, dia menatakan, BI memastikan akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sehingga imbal hasil bagi para investor akan tetap menarik. Selain itu SRBI yang kini telah ditransaksikan di pasar sekunder memiliki rata-rata transaksi per hari sekitar Rp16 triliun.
Perry Warjiyo meyakini para investor yang telah lama mengikuti perkembangan pasar Indonesia cenderung akan memiliki cara pandang yang lebih optimistis, terkait kondisi IHSG dan instrumen portofolio domestik lain. Bank Indonesia juga akan terus berkoordinasi dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani.

