Tekanan IHSG Masih Berlanjut, Cermati Tiga Saham Undervalue Ini
JAKARTA, investortrust.id – Tekanan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berlanjut akibat sentimen negative dari pasar global dan regional. Di tengah tekanan tersebut, tiga saham ini, BBRI, AKRA, dan SCMA, sudah undervalue, sehingga layak untuk dicermati.
Berdasarkan data penutupan perdagangan saham BEI, Selasa (4/3/2025), IHSG ditutup anjlok sebanyak 139,26 poin (2,14%) ke posisi 6.380,40. Penurunan dipicu atas koreksi saham-saham big cap, seperti saham emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu dan konglomerasi lainnya.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai, meskipun investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 309 miliar hari ini, dominasi aksi jual di pasar membuat indeks tetap berada di zona merah.
Baca Juga
Harga 'Nyungsep' Parah, Prajogo Pangestu Turun Gunung Borong Saham Barito Pacific (BRPT)
“Faktor eksternal seperti ketidakpastian perang dagang antara AS dan China, kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS), serta perlambatan ekspansi sektor manufaktur AS semakin memperburuk sentimen investor,” kata Hendra kepada investortrust.id Selasa, (4/3/2025).
Menurutnya, dampak dari ketegangan ini tidak hanya dirasakan pasar saham Indonesia, tetapi bursa Asia, Eropa, dan Amerika yang kompak melemah. Hal ini mencerminkan peningkatan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, yang turut menyeret turun pasar saham domestik.
Dari sisi sektor, semua indeks sektoral tercatat melemah, dengan sektor barang baku menjadi yang paling terpuruk, turun hingga 5,04 persen, diikuti sektor energi dan industri.
“Ini menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi secara teknikal, tetapi juga akibat tekanan fundamental pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan kebijakan global dan harga komoditas,” bebernya.
Baca Juga
Pemodal Asing Net Buy Rp 593,64 Miliar, Saham Bank Papan Atas BBRI, BBCA, BMRI, hingga BBNI Diburu
Sementara itu, saham-saham unggulan seperti BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI justru menjadi incaran investor asing dengan pembelian signifikan, yang menunjukkan bahwa meskipun ada aksi jual, pelaku pasar global masih melihat peluang dalam saham perbankan Indonesia.
Menariknya, di tengah koreksi pasar, JP Morgan justru meningkatkan rekomendasi terhadap saham-saham perbankan, khususnya BBRI, yang naik dari neutral menjadi overweight. “Kenaikan rekomendasi ini didasarkan pada fundamental yang kuat, khususnya dalam bisnis pembiayaan UMKM yang menjadi motor pertumbuhan profitabilitas BBRI,” jelas Hendra
Namun, ia menekankan tantangan pun masih ada, terutama dalam perbaikan kualitas aset akibat penurunan penjaminan di segmen Kupedes. Manajemen BBRI sedang berupaya memperbaiki rasio kredit bermasalah (NPL), yang meskipun memakan waktu, diharapkan akan membuahkan hasil positif ke depan.
“Dalam kondisi ini, pertanyaan besar muncul, apakah IHSG sudah mencapai titik terendah atau masih berpotensi mengalami koreksi lebih lanjut? Dengan pergerakan saat ini yang cenderung mencari titik bottom, masih ada potensi tekanan jika sentimen eksternal belum membaik,” tanya Hendra.
Baca Juga
Pemerintah Siap Hilirisasi 21 Proyek, Investasi Awal US$ 40 Miliar
Namun, dengan adanya stimulus dari OJK berupa kemudahan buy back tanpa perlu RUPS serta penundaan short selling, langkah ini dapat memberikan stabilitas bagi pasar dalam jangka pendek. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga psikologis investor agar tidak panik dalam menghadapi tekanan pasar yang cukup kuat. Meski demikian, efektivitasnya masih akan diuji oleh sentimen eksternal yang lebih dominan.
“Ke depan, agar IHSG bisa rebound lebih solid, diperlukan kombinasi dari beberapa faktor stabilisasi kondisi global, kepastian arah kebijakan The Fed terkait suku bunga, serta dukungan dari fundamental ekonomi domestik yang kuat. Jika faktor-faktor ini dapat berkontribusi positif, maka pemulihan IHSG akan lebih berkelanjutan,” tuturnya.
Saham Undervalued
Untuk perdagangan besok, Rabu (5/3/2025) IHSG diperkirakan akan mengalami penguatan terbatas dengan menguji area resistance 6.440, dengan pergerakan di rentang 6.270-6.440.
Hal ini menjadi kesempatan bagi investor untuk mencermati saham-saham berfundamental kuat yang masih undervalued, seperti BBRI dengan target Rp 3.800, AKRA di Rp 1.330, dan SCMA di Rp 220.
“Dengan strategi yang tepat, investor masih dapat menemukan peluang di tengah volatilitas pasar yang tinggi,” katanya.

