IHSG Fluktuatif Tinggi, OJK Terus Monitoring hingga Siapkan Kebijakan Ini
JAKARTA, investortrust.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus melakukan monitoring terhadap perkembangan pasar saham di tengah tingginya fluktuasi indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sebulan terakhir. Sejumlah opsi disiapkan untuk menjaga pasar modal.
Berdasarkan ata, IHSG telah merosot sebanyak 11,8% month to date (mtd) 6.270,60 pada 28 Februari 2025. Sedangkan penurunan IHSG yar to date (ytd) mencapai 11,43% di tengah sentimen buruk perekonomian global.
Baca Juga
OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Meningkatnya Dinamika Perekonomian
Penurunan tersebut memicu nilai kapitalisasi pasar (market cap) BEI turun menjadi Rp 10.879,86 triliun atau turun 11,8% ytd. Adapun, non residen atau pemodal asing mencatatkan net sell sebesar Rp 18,19 triliun secara mtd dan sebesar Rp 21,9 triliun ytd.
Kepala Eksekutif Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan, OJK akan terus melakukan monitoring atas perkembangan pasar, seiring kondisi pasar terkini, stabilitas di pasar modal, dan juga tetap memperhatikan perlindungan investor.
"Untuk menjaga stabilitas di pasar modal dan tetap memperhatikan perlindungan investor, OJK akan terus melakukan monitoring atas perkembangan pasar. Sebagai langkah awal, OJK akan menunda implementasi kegiatan short sell saham," kata Inarno dalam Konferensi Pers dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK secara daring, Selasa, (4/3/2025).
Baca Juga
Selain itu, Inarno menekankan, terdapat opsi kebijakan lain yang akan dikaji, yaitu pelaksanaan buy back saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Aksi ini diterapkan dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan perkembangan situasi dan kondisi yang terjadi.
“OJK telah membuka ruang komunikasi terbuka antara regulator, pelaku pasar, serta stakeholder lainnya sebagai perwujudan nyata dari sinergi dan komitmen dan tanggung jawab bersama terhadap industri pasar modal dan juga perekonomian Indonesia,” terang dia.
Baca Juga
Selamatkan IHSG, OJK & BEI Kaji Peluang Emiten Buyback Tanpa RUPS
Sementara di pasar obligasi, indeks pasar obligasi ICBI menguat 1,14% mtd atau naik 1,92 ytd. Sementara investor non-resident mencatatkan net buy sebesar Rp 8,86 triliun mtd atau Rp 13,51 triliun ytd. Adapun di industri pengelolaan investasi, nilai asset under management (AUM) tercatat sebesar Rp 822,65 triliun per 28 Februari 2025 atau turun 0,78% mtd atau turun 2,16% ytd.
Selain itu, terkait dengan penghimpunan dana di pasar modal masih tren positif, tercatat nilai penawaran umum mencapai Rp 20,74 triliun mengalami 1 penawaran umum terbatas dan juga 11 penawaran umum berkelanjutan. Sementara itu masih terdapat 123 pipeline penawaran umum dengan perkiraan nilai indikatif sebesar Rp 42,56 triliun.

