IHSG Bergerak Melesat hingga 4% Ditopang Sejumlah Faktor, Termasuk Revisi Naik Peringkat BBRI dan BMRI
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Senin (3/3/2025), berhasil melesat 236 poin (3,77%) ke posisi 6.506. Bahkan, memasuki sesi II, IHSG sempat melesat lebih dari 4,5% ke level 6.570.
Menurut Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atauDidit, secara teknikal, lompatan IHSG ini akibat techincal rebound setelah dua hari berturut-turut mencatatkan koreksi cukup dalam, bahkan penurunan sepanjang pekan lalu lebih dari 7,5%.
“Penguatan IHSG ini juga sejalan dengan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan penguatan mayoritas bursa global dan regional Asia,” kata Didit kepada investortrust.id Senin, (3/3/2025).
Baca Juga
Tumbuh 10%, SMBC Indonesia Cetak Laba Rp 2,8 Triliun di 2024
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah (kurs) pada perdagangan pagi ini menguat 56 poin atau 0,34 persen menjadi Rp16.540 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.596 per dolar AS.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas Reydi Octa menilai penguatan, IHSG salah satunya ditenggarai oleh rilis penambahan peringkat Big Banks di RI oleh JP morgan hari ini, yaitu BBRI dari netral menjadi overweight dan BMRI dari underweight menjadi netral.
“Hal ini memberikan angin segar bagi IHSG hari ini semenjak pekan lalu IHSG anjlok karena Morgan stanley memangkas peringkat saham RI,” terang Reydi saat dihubungi investortrust.id Senin, (3/3/2025).
Selain itu, menurut Reydi, data Purchasing Managers Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari Senin ini turut memberikan sentimen positif, data tersebut menunjukkan PMI manufaktur Indonesia ada di level 53,6, sebagai informasi PMI menggunakan benchmark level 50 sebagai titik awal, jika diatas level 50 maka dunia bisnis sedang ekspansi.
Data inflasi Februari 2025 juga telah dirilis dan menunjukan tingkat inflasi secara tahunan RI turun ke level 0,09%, inflasi negatif atau mulai mengalami deflasi. “Hal ini rasanya telah diantisipasi dan dapat diprediksi dari jauh hari karena suku bunga BI yang cenderung higher for longer dan tidak turun lagi,” tuturnya.
Baca Juga
Reydi menjelaskan, pertimbangan BI tidak menurunkan suku bunga salah satunya karena Federal Funds Rate (FFR) belum menurunkan suku bunga lagi, sehingga di Indonesia, investor lebih berselera untuk meningkatkan tabungannya ketimbang belanja atau ekspansi bisnis.
Senada dengan Reydi, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi memandang jika memang FFR dapat dipangkas lebih cepat maka BI rate dapat mengikuti sambil menjaga stabilitas Rupiah. Selain itu, pemangkasan dapat berdampak pada inflow asing seiring dengan investor mencari alternatif return yang lebih menarik.
“Meski demikian, kami juga masih mengantisipasi jika rebound ini hanya sebatas spekulasi. Konfirmasi penguatan dapat berlanjut jika IHSG mulai bergerak ke atas level 6.700 atau MA20,” ujar Audi.

