Bagikan

Ditopang Sejumlah Faktor Ini, Laba Timah (TINS) bisa Melesat 206% di 2026

Poin Penting

Produksi TINS diperkirakan naik hingga 45 ribu ton pada 2026.
BRI Danareksa revisi target laba 2026 jadi Rp 2,4 triliun.
Harga saham TINS sudah naik 160% sebulan terakhir.

JAKARTA, investortrust.id PT Timah Tbk (TINS) diproyeksikan mencatatkan lonjakan kinerja signifikan mulai kuartal IV-2025, seiring dengan pulihnya produksi pasca-pengetatan tambang ilegal bersamaan dengan kenaikan harga timah global. Pertumbuhan laba perseroan tahun 2026 diprediksi lebih dari 200%. Sedangkan penyerahanan sitaan smelter timah senilai Rp 7 triliun ke perseroan menjadi tambahan sentimen positif. 

Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham TINS menjadi Rp 3.000 dengan rekomendasi dipertahkan beli. Sedangkan dalam sebulan terakhir, harga saham TINS telah melambung lebih dari 160% menjadi Rp 2.700.

Baca Juga

Saham TINS Melambung 113% Sebulan, Ternyata Ada Sejumlah Fakta Menarik Ini

Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Nashrullah Putra Sulaeman mengatakan, penguatan penegakan hukum terhadap tambang ilegal akan menjadi katalis utama bagi pemulihan volume produksi perseroan. Produksi tahun ini diperkirakan mencapai 15 ribu ton metrik, turun dari estimasi sebelumnya 22 ribu ton dan masih di bawah target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) manajemen sebanyak 30 ribu ton.

Estimasi Kinerja Keuangan TINS

Namun, pada 2026, produksi TINS diproyeksikan melonjak hingga 45 ribu ton, seiring membaiknya aliran bijih dan penguatan tata kelola rantai pasok. Bahkan, manajemen TINS menyebutkan potensi produksi jangka panjang dapat mencapai 80 ribu ton per tahun, meski angka tersebut dinilai masih bersifat aspiratif di luar kerangka RKAB saat ini.

Selain peningkatan produksi, terang dia, TINS terdorong proyeksi kenaikan rata-rata harga timah global. Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target  laba TINS untuk 2025 dan 2026 masing-masing sebesar 19% dan 206%, menjadi Rp 1 triliun dan Rp 2,4 triliun. Target laba ini mengasumkan harga rata-rata timah (ASP)  menjadi US$ 32 ribu per ton untuk 2025 dan US$ 30 ribu per ton untuk 2026 atau naik 10% dan 7% dari perkiraan sebelumnya.

Baca Juga

Prabowo Saksikan Penyerahan Aset Rampasan ke PT Timah Senilai Rp 7 Triliun, Ini Daftarnya

“Dengan asumsi produksi 45 ribu ton pada 2025 dan harga timah global yang stabil, pendapatan dan margin TINS diproyeksikan meningkat tajam. EBITDA 2026 diperkirakan mencapai Rp 4 triliun, naik 49% dari estimasi sebelumnya, dengan biaya tunai (cash cost) tetap di level kompetitif US$ 20 ribu per ton,” terangnya.

Dalam skenario optimistis, jika produksi dan harga timah sama-sama melampaui ekspektasi, TINS berpeluang membukukan laba hingga Rp 4,3 triliun pada 2026.  Dengan proyeksi pemulihan kuat berbasis fundamental dan kebijakan pengetatan tambang ilegal, TINS dinilai memiliki peluang menjadi salah satu saham komoditas logam dengan momentum re-rating paling menarik di 2026.

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan secara langsung penyerahan aset barang rampasan negara (BRN) kepada PT Timah Tbk, yang digelar di Smelter PT Tinindo Internusa, Kota Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada Senin, 6 Oktober 2025. Foto: Cahyo - Biro Pers Sekretariat Presiden (Foto: Cahyo - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Source: Foto: Cahyo - Biro Pers Sekretariat Presiden

Sinyal Kuat

Terkait penyerahan enam smelter timah hasil sitaan senilai Rp 7 triliun kepada Timah (TINS), menurut dia, sebagai langkah konsolidasi terbesar dalam program penegakan hukum pertambangan pemerintah. Aset-aset tersebut disita dari penambang tanpa izin dan mencakup 108 unit alat berat serta persediaan timah olahan. “Fasilitas peleburan ini diperkirakan akan memperluas jejak hilir TINS secara signifikan dan memperkuat kendali negara atas aktivitas pemurnian dalam negeri,” tulisnya.

Baca Juga

Prabowo Tutup 1.000 Tambang Timah Ilegal di Babel, Selamatkan Rp 22 Triliun Uang Negara

Penyerahan tersebut akan mendongkrak  kapasitas peleburan, meningkatkan kendali atas rantai pasok domestik, dan mendukung agenda penegakan hukum pemerintah. Penambahan fasilitas baru juga dapat meningkatkan fleksibilitas pemrosesan dan mengurangi ketergantungan pada fasilitas pihak ketiga, memberikan leverage operasional seiring pulihnya volume bijih legal.

Selain peningkatan kapasitas langsung, serah terima ini menjadi sinyal kuat adanya dukungan pemerintah untuk formalisasi industri jangka panjang. Hal ini diharapkan meningkatkan visibilitas TINS sebagai produsen nasional utama, sekaligus membuka peluang revaluasi valuasi ketika proses integrasi berjalan lebih jelas.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024