Harga Saham Tak Cerminkan Fundamental, AVIA Siapkan Buy Back Saham Rp 1 Triliun
JAKARTA, investortrust.id– PT Avia Avian Tbk (AVIA) merancang pembelian kembali (buy back) saham dengan target Rp 1 triliun. Aksi ini bertujuan untuk menjaga kewajaran dan stabilitas harga saham perseroan, karena harga saat ini tak mencerminkan kondisi nilai, kinerja, dan fundamental.
Manajemen dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (28/2/2025), juga menyebutkan bahwa buy back tersebut bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap saham AVIA. Sedangkan berdasakan data penutupan perdagangan saham BEI kemarin, saham AVIA ditutup level Rp 364.
Baca Juga
Sepekan, Market Cap BEI Hangus Rp 906 Triliun hingga Asing Jual Masif Saham
AVIA akan menggunakan dana dari saldo kas internal untuk membiayai buy back saham ini. Pengambilan dana tersebut tidak akan memengaruhi kemampuan keuangan perseroan secara signifikan untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Aksi ini akan dilaksanakan setelah disetujui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 10 April 2025.
Terkait kinerja keuangan, AVIA sebelumnya melaporkan kenaikan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 1,35% menjadi Rp 1,66 triliun sepanjang 2024, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 1,64 triliun.
Dari laporan keuangan yang telah diaudit untuk kinerja penuh tahun lalu, produsen cat dekoratif itu membukukan total penjualan konsolidasi sebesar Rp 7,5 triliun atau meningkat 6,5% (yoy). Pada periode yang sama, volume penjualan mereka juga tumbuh 5% secara tahunan.
Baca Juga
Tumbangnya Tekstil Raksasa Sritex: Terlilit Utang, Pailit hingga PHK Massal
Head of Investor Relations Andreas Timothy Hadikrisno menjelaskan, pertumbuhan tersebut didukung oleh kinerja solid pada kuartal IV-2024 dengan total penjualan konsolidasi mencatatkan kenaikan dua digit sebesar 11,5% (yoy) sementara volume penjualan meningkat 8,5% (yoy).
“Selain pertumbuhan penjualan, AVIA juga mempertahankan profitabilitas yang sehat sepanjang 2024, dengan margin laba kotor sebesar 44,7%, margin EBITDA 27,2%, dan margin laba bersih 22,3%,” jelas Andreas.
Menurut manajemen, 2024 diwarnai berbagai tantangan ekonomi di mana banyak bisnis menghadapi tekanan akibat lesunya konsumsi masyarakat. Gejolak ekonomi nasional juga diperburuk oleh berbagai isu sosial yang turut memperlemah daya beli.
