Sepekan, Market Cap BEI Hangus Rp 906 Triliun hingga Asing Jual Masif Saham
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) kehilangan kapitalisasi pasar (market cap) senilai Rp 906 triliun selama sepekan ini. Hal ini dipicu atas penurunan drastis indeks mencapai 7,83% menjadi ke level terendah baru lebih dari 3,5 tahun terakhir 6.270.
Penurunan market cap bernilai besar tersebut dipicu atas penurunan seluruh saham dengan nilai market cap besar, seperti BBRI anjlok 13,62%, BMRI anjlok 9,36%, BBCA turun 6,36%, TPIA turun 16,51%, BREN melemah 11,23%, TLKM turun 11,23%, AMMN melemah 9,97%, dan DSSA anjlok 17,67%.
Baca Juga
Pemerintah Tetap Optimistis Kinerja IHSG Membaik Meski Rating MSCI Turun
Hangusnya kapitalisasi pasar bursa hingga triliunan rupiah tersebut sejalan dengan massifnya penjualan penjualan bersih (net sell) saham bernilai Rp 10,21 triliun pekan ini. Alhasil net sell saham oleh investor asing year to date (ytd) telah mencapai Rp 21,89 triliun.
Net sell terbesar pekan ini disumbangkan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 2,14 triliun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 1,79 triliun, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) Rp 1,38 triliun, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) Rp 1,37 triliun, dan PT Bank MandiriT bk (BMRI) Rp 1,12 triliun.
Terkait anjloknya indeks pekan ini, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tak khawatir dan tetap optimistis dengan kinerja IHSG, peringkat pasar saham Indonesia diturunkan ke underweight oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). “Ya, tentu kita harus melihat long term dan kita berharap situasi ini akan didorong lagi oleh bursa,” katanya kemarin.
Baca Juga
Belum Ada Tanda Pembalikan Arah, IHSG Terbuka Lanjuktan Koreksi ke Bawah Level 6.000
Dia menambahkan bahwa pemerintah terus memantau pergerakan IHSG dan begitu juga dengan nilai tukar, meski demikian pemerintah tetap optimistis terhadap pasar modal domestic ke depan.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan telah mendapatkan penjelasan dari Kementerian Keuangan. Dia menyebutkan bahwa penurunan rating tersebut tidak dilihat secara menyeluruh. “Angka-angka makro Indonesia masih bagus,” kata Susi, sapaannya.
Secara fundamental, terang dia, perekonomian Indonesia masih bagus. Hal ini ditunjukkan sejumlah indicator, seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur.

