May Day! Pemerintah Diminta Tenangkan Pasar Saham setelah Terpuruk 7,39% Sepekan
JAKARTA, investortrust.id – May Day! Pelaku pasar menantikan langkah pemerintah untuk menyelamatkan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dari keterpurukan dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data IHSG telah anjlok lebih dari 7,39% dalam sepekan terakhir.
Bahkan hingga pada penutupan perdagangan saham sesi I BEI, Jumat (28/2/2025), IHSG telah terjun sebanyak 185 poin (2,86%) menjadi 6.300. Indeks juga sempat menyentuh level terendah hari ini 6.292. Level penutupan tersebut menjadi kinerja indeks yang terendah baru lebih dari 3,5 tahun terkahir atau sejak September 2021. Pelaku pasar berharap pemerintah turun tangan untuk menenangkan pasar dari aksi jual massif dan net sell investor asing bernilai jumbo.
Baca Juga
Bunga SRBI Turun, Rupiah Tembus Rp 16.500/USD, Asing Masuk SBN
Koreksi indeks sesi I hari ini dipicu atas penurunan seluruh sektor saham dengan koreksi terbanyak melanda saham sektor material dasar 4,13%, sektor keuangan 2,73%, sektor industry 2,97%, sektor consumer primer 2,32%, dan sektor infrastruktur 2,76%.
Penurunan dalam juga dipengaruhi kejatuhan saham-saham bank miliki negara, seperti BBRI anjlok 6,62% ke level terendan baru sejak November 2020 menjadi Rp 3.390, saham BBNI dibanting 7,14% menjadi Rp 4.030, BRIS dibanting 6,08% menjadi Rp 2.470, dan BMRI turun sebanyak 1,93% menjadi Rp 4.570.
Berlanjutnya penurunan indeks hingga hari ini, menurut analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana, dipengaruh berlanjutnya tekanan jual saham domestik oleh investor asing. Pemodal asing secara massif melepas saham-saham big cap dalam negeri. Tekanan jual makin massif dipicu kian tertekannya Rupiah hingga tembus di atas level Rp 16.572.
“Salah satu pemicu utama tekanan ini adalah keputusan Morgan Stanley yang menurunkan peringkat saham MSCI Indonesia dari equal weight menjadi underweight. Lembaga ini menilai return on equity (ROE) saham-saham di Indonesia terus melemah, sementara pertumbuhan ekonomi masih stagnan,” kata Hendra.
Baca Juga
Menurut Ahli Strategi Morgan Stanley, Jonathan Garner, investasi terhadap PDB Indonesia bergerak sideways sepanjang 2025, yang berisiko menekan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan. Akibatnya, investor global lebih memilih untuk mengalihkan portofolio mereka ke negara lain di ASEAN yang dinilai lebih prospektif.
Hendra menambahan tekanan terhadap IHSG semakin diperparah oleh ketidakpastian pasar terhadap keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). “Institusi yang digadang-gadang sebagai Temasek-nya Indonesia ini diharapkan mampu mengoptimalkan aset negara dan menarik investasi asing, malah menjadi boomerang bagi pasar saham,” terang Hendra.
Menurut dia, masih banyak pertanyaan yang muncul terkait efektivitas dan transparansi pengelolaannya. Hendra memandang investor tampaknya masih ragu apakah Danantara akan benar-benar menjadi katalis positif bagi perekonomian atau justru menambah risiko baru bagi stabilitas keuangan negara.

