Melesat 25% dalam Sebulan, ke mana Arah Saham Bukalapak (BUKA)?
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mendadak mencatatkan lompatan pesat lebih dari 25% dalam sebulan terakhir. Bahkan, dalam tiga hari beruntun terjadi penguatan pesat saham teknologi ini.
Berdasarkan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (12/2/2025), saham BUKA kembali menguat Rp 18 (12,95%) menjadi Rp 157 hingga pukul 10.50 WIB. Penguatan harga saham BUKA jauh melampaui penguatan harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) hanya mencapai 2,5% dalam sebulan terakhir. Saham GOTO terpantau cenderung bergerak fluktuatif dalam sebulan terakhir.
Baca Juga
Berdasarkan data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BUKA mulai mencatatkan kenaikan harga setelah manajemen memutuskan restrukturisasi bisnis dengan penutupan transaksi produk fisik di platform Bukalapak.com secara resmi mulai 9 Februari 2025.
“Penutupan penjualan barang fisik melalui platform e-commerce Bukalapak diharapkan bisa menghemat biaya senilai Rp 10 triliun dan dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk akuisisi untuk menopang pertumbuhan perseroan ke depan,” tulis analis Sinarmas Sekuritas Paulus Jimmy dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
Usai dilakukan restrukturusasi, dia mengatakan, BUKA diprediksi kian bersemangat untuk melakukan merger dan akuisisi yang bisa menaikkan nilai dan sinergi perseroan ke depan. Perseroan disebut tertarik mengakuisisi perusahaan yang sudah menorehkan keuntungan atau bukan perusahaan start up.
Baca Juga
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan hold saham BUKA dengan target harga Rp 160. Target harga tersebut terdiskon dibandingkan dengan kas per sahamnya mencapai Rp 182 per saham. Dengan target harga tersebut masih terbuka peluang penguatan saham ini, dibandingkan dengan harga penutupan kemarin Rp 148.
Sebelumnya, Direktur Bukalapak Victor Putra Lesmana mengatakan, perseroan berencana menggunakan sisa dana tersebut untuk pengembangan usaha perseroan dan entitas anak usaha melalui modal kerja, pembelian aset, joint ventures, dan investasi. "Apalagi jika kita melihat atau menilai bahwa ada potensi positif dan baik untuk perkembangan perusahaan ke depan," paparnya.
Hingga Akhir 2024, Bukalapak (BUKA) masih menyisakan dana penawaran umum (initial public offering/IPO) senilai Rp 9,33 triliun. Sedangkan dana yang sudah terpakai Rp 11,9 triliun atau setara dengan 56%% dari seluruh dana IPO.

