Potensi Reli Bitcoin ke Atas US$ 100.000 Tetap Terbuka, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id – Potensi pergerakan harga aset kripto Bitcoin (BTC) untuk mengalami reli ke atas US$ 100.000 tetap terbuka, terutama dengan meningkatnya dukungan regulasi.
Menilik data Coinmarketcap, Selasa (11/2/2025) pukul 18.40 WIB, harga BTC terpantau tengah menguat 0,21% dalam sehari ke posisi US$ 98.083. Namun dalam sepekan masih minus 1,27%. Kapitalisasi pasar kripto global menjadi US$ 3,23 triliun, meningkat 1,18% dari hari terakhir. Dominasi Bitcoin saat ini adalah 60,19%, menurun 0,56% hari ini.
“Beberapa negara bagian AS mulai memperkenalkan undang-undang untuk membangun cadangan Bitcoin, yang memicu spekulasi tentang kemungkinan perlombaan akumulasi Bitcoin secara global,” ujar Financial Expert Ajaib Panji Yudha dalam risetnya, Selasa (11/2/2025).
Dia menyebut, pasar akan menyoroti beberapa laporan ekonomi utama yang dapat memengaruhi pergerakan aset tradisional dan digital. Kesaksian Ketua The Fed Jerome Powell di hadapan Kongres pada Selasa (11/2/2025) menjadi peristiwa yang sangat dinantikan pekan ini.
Powell dijadwalkan berbicara di hadapan Komite Perbankan Senat pada Selasa dan Komite Jasa Keuangan DPR pada Rabu. Pernyataannya dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter The Fed, terutama setelah keputusan bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil pada Januari lalu.
“Pernyataannya berpotensi menjadi pemicu pergerakan besar di pasar. Jika Powell menunjukkan sikap dovish dan terbuka terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar, ini bisa menjadi angin segar bagi pasar aset kripto,” sambung Panji.
Baca Juga
Sebaliknya, jika Powell menegaskan perlunya kebijakan ketat untuk menekan inflasi, aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin bisa menghadapi tekanan jual.
Selanjutnya, laporan Consumer Price Index (CPI) pada Rabu (12/2/2025) akan memberi gambaran tingkat inflasi dari perspektif konsumen. Para ekonom memperkirakan inflasi tahunan turun ke 2,8% dari 2,9% pada Desember, sementara inflasi inti (Core CPI) diproyeksikan tetap di 3,3%.
Jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi, ini bisa menjadi katalis positif bagi Bitcoin dan aset digital lainnya, karena mengurangi kemungkinan kebijakan moneter ketat dari The Fed.
Ada pula pengumuman Producer Price Index (PPI) pada Kamis (13/2/2025). Indeks ini mengukur perubahan harga di tingkat produsen dan menjadi indikator utama tekanan inflasi. Kenaikan PPI dapat menimbulkan kekhawatiran inflasi, tetapi juga bisa memperkuat narasi Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Kemudian sebelum akhir pekan, terdapat perilisan data penjualan ritel pada Jumat (14/2/2025). Laporan ini akan memberikan wawasan tentang tren pengeluaran konsumen.
Baca Juga
Harga Bitcoin Lesu, Imbas Donald Trump Umumkan Kenaikan Tarif Impor 25% untuk Aluminium dan Baja?
Jika angka penjualan ritel kuat, ini menandakan daya beli masyarakat masih tinggi, yang dapat berdampak positif bagi pasar aset spekulatif seperti Bitcoin. Sebaliknya, data yang lemah bisa mendorong investor beralih ke Bitcoin sebagai aset lindung nilai.
“Secara keseluruhan, meskipun pasar masih menghadapi ketidakpastian akibat kebijakan perdagangan dan data ekonomi yang akan datang, sentimen terhadap Bitcoin tetap positif. Dengan regulasi yang semakin bersahabat dan meningkatnya adopsi institusional, Bitcoin bisa segera menguji level psikologis US$ 100.000 dalam waktu dekat,” tegas Panji

